Perjalanan pendakian menuju Puncak Ciremai, yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat kali ini dengan mengambil jalur Apuy, yang oleh sebagian besar pendaki, disebut sebagai jalur yang relatif lebih bersahabat, dibandingkan dengan 2 jalur lainnya, yaitu Jalur Linggarjati dan jalur Palutungan.

Perjalanan menuju Apuy. Berangkat dari obrolan mengenai rencana pendakian ke salah satu gunung di Jawa Barat, namun dikarenakan gunung tersebut ditutup, maka rencana pun berubah haluan menjadi menuju puncak Ciremai 3.078 mdpl via Apuy.

Pukul 06.00 pagi, ternyata sudah hampir masuk kabupaten Cirebon ketika saya terbangun dari perjalanan menuju Maja. Kira-kira sudah 5 jam saya tertidur pulas di bis AKAP ini. Kami pun bersiap-siap turun di Palimanan untuk kemudian berganti angkutan menuju pasar Maja Kabupaten Majalengka, dikarenakan salah satu rekan kami telah menunggu di sana. Setelah tidak lupa mempersiapkan beberapa logistik dan air minum yang akan kami bawa selama pendakian, kami pun berangkat menuju desa Apuy yang akan menjadi awal pendakian kali ini. Sebagai informasi, apabila musim kemarau, sepanjang jalur pendakian gunung Ciremai ini tidak terdapat sumber mata air. Sumber mata air dapat ditemui di Goa Walet, namun itu pun tidak banyak, dan kemungkinan mengering apabila kemarau. Sehingga perlu menjadi perhatian bagi para pendaki untuk bisa memperkirakan jumlah air yang akan dibawa selama perjalanan nanti.

Kurang lebih pukul 10.30, kami pun telah melakukan packing ulang dan siap untuk melakukan pendakian. Untuk menghemat waktu dan tenaga, sengaja kami menggunakan mobil pick-up terbuka untuk mengantarkan kami ke pos 1 pintu gerbang hutan rimba / Blok Arban.

Menuju Pos 2 Perempatan  Lima (1.908 mdpl)

Mendung yang terus menemani sejak awal kedatangan kami di Desa Apuy perlahan hilang dari pandangan saya. Memasuki hutan selepas Pos 1, jalur pendakian sudah menanjak dan sangat sedikit jalan datar.  Tidak ada ketentuan siapa di depan, siapa di belakang, yang penting kami semua berjalan bersama, bergantian apabila salah satu dari kami ingin beristirahat sebentar untuk mengatur nafas.

Tak terasa sudah 1 jam kami berjalan, melewati jalan setapak dengan akar2 yang seringkali membutuhkan perhatian ekstra dari mata kami masing-masing. Tak jarang kami pun harus berpegangan pada akar-akar yang kokoh untuk membatu kami menapaki tanjakan yang licin. Bau tanah yang lembab menjadi teman dalam perjalanan kami, serta hutan yang lumayan lebat, membuat kami terlindung dari panasnya sinar matahari, mengantarkan kami semua ke Pos 2.

Istirahat sejenak di Pos 3 – Tegal Mamusa (2.400 mdpl)

Langkah kaki kami terus menapaki jalan setapak yang menanjak. Trek ciremai memang terkenal pelit dengan bonus. Tapi itu udah resiko yang kami hadapi. Hanya bisa berteriak “semangat” agar kami melupakan lelah yang setia menemani kami.Kurang lebih 1 jam lebih, kami pun tiba di pos 3.

Team semua break istirahat untuk minum. Beberapa dari kami memaasak air panas untuk menyeduh kopi dan susu bekal kami. Sambil makan cemilan dan bekal nasi bungkus yang kami bawa, saya pun kembali mengatur nafas yang sudah terengah-engah.

Masih jauh…dalam hati saya. Tapi harus bisa….gak peduli berapa jam saya akan mendaki, yang pasti saya harus sampai di puncak. Setelah kami rasa cukup, kamipun melanjutkan perjalanan kembali menuju Pos 4 dan Pos 5.

Pos 4 – Tegal Jamuju (2.600 mdpl) dan Pos 5 – Sanghiang Rangkah (2.800 mdpl)

Lepas dari pos 3, kami pun kembali dihadapkan pada trek-trek yang menguras tenaga. Namun semangat dari kami semua menjadikan tanjakan-tanjakan tersebut menjadi lawan yang harus kami taklukkan menjadi kawan. Sempat berhenti agak lama setelah tanjakan yang lumayan untuk kaki ini, dan melihat ke arah depan, tanjakan lain sudah menanti.

Baju yang kami kenakan sudah basah terkena keringat yang terus mengucur. Hawa dingin sudah menyergap kami semua. “Sudah hampir senja”, begitu pikirku. Harus cepat-cepat tiba di Pos 5 agar tidak terlalu malam untuk naik ke pos 6. Jelly dan air mineral menjadi teman setia kami untuk melepas dahaga dan lelah. Tidak lupa celoteh burung kecil yang menari-nari riang diatas kami, dengungan lebah yang selalu mengikuti kami, serta suara angin yang mendesir, seolah membisikkan semangat kepada kami semua.

Kurang lebih pukul 05.30 sore, kami pun tiba di Pos 5, Sanghiang Rangkah, tempat beristirahat kebanyakan pendaki yang akan mendaki gunung Ciremai. Karena baju yang saya kenakan sudah sangat basah, dan mengakibatkan rasa dingin yang menusuk, saya pun berinisiatip untuk mengganti baju saya dengan baju kering, demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan

Menuju Pos 6 – Goa Walet, dalam Kepekatan Malam

Jalur menuju pos 6 sangat membutuhkan ekstra tenaga lebih, dibandingkan dengan jalur pos-pos sebelumnya. Dari apa yang saya rasakan setelah beberapa lama berjalan, jalur menuju pos 6 ini berbatu dengan pasir diatasnya yang membuat pijakan kaki sedikit lebih licin dan tanjakannya lebih curam, sehingga selain harus ekstra tenaga, kamipun harus ekstra hati-hati memilih jalur.

Hawa dingin semakin menusuk tulang. Gelap semakin mencekat, namun cuaca sangat bersahabat saat itu. Pendakian malam itu dengan ditemani taburan bintang-bintang yang sangat banyak di angkasa. Tak jarang sembari kami beristirahat, kami pun melepas lelah dengan memandang bintang-bintang tersebut….aahhhh sungguh indahnya…. Sepertinya rombongan terakhir yang mendaki melalui jalur Apuy hanya rombongan kami, karena rombongan kami tidak ada yang mendahului sama sekali.

Akhirnya dengan penuh perjuangan dan kondisi fisik yang sudah sangat terkuras, kami pun tiba di pos 6 sebelum tengah malam. Tenda-tenda langsung kami dirikan untuk menahan hawa dan angin dingin yang terus-menerus berhembus. Setelah kami sedikit menghangatkan badan dengan minuman hangat dan mengisi perut kami yang kosong, kamipun beristirahat di tenda masing-masing untuk memulihkan fisik kami dan mempersiapkan tenaga untuk menuju puncak di keesokan harinya.

Menuju Puncak menikmati indahnya lukisan alam Ciremai.


Keesokan harinya sempat terlintas di benak saya untuk tidak mendaki lagi menuju puncak, namun akhirnya saya pun bergegas mempersiapkan diri menuju puncak Gunung Ciremai ini, apalagi sudah banyak pendaki yang juga naik menuju puncak.

Setelah selesai sarapan, rombongan tidak semuanya naik ke puncak secara bersamaan. Saya pun naik lebih dahulu dengan seorang rekan saya. Saat itu pula saya dapat melihat jalur untuk menuju puncak dengan jelas. Untung saja saya mendaki malam hari, sehingga saya tidak terlalu drop demi melihat jalur yang akan saya lalui malam sebelumnya.

Pagi itu cukup ramai pendaki yang akan menuju puncak. Ada yang bermalam di dekat goa walet, ada pula yang baru datang menuju puncak dan akan bermalam di atas.Riuh rendah celoteh para pendaki, membuat kami merasa ringan untuk melangkahkan kaki menuju puncak. Tetap dengan hati-hati dan penuh perhitungan, karena kali ini, jalur pendakian lebih miring dan licin.

Setelah loncat kanan, loncat kiri, tibalah kami di bibir kawah gunung Ciremai….yeahhh we did it…..Rasa takjub dan syukur dapat melihat kekuasaan-Nya selalu saya panjatkan di dalam hati ini. Lukisan alam yang teramat indah untuk hanya dilukiskan dengan kata-kata.

Kembali Pulang. Kurang lebih pukul 10.00, seluruh team sudah turun dan packing kembali untuk persiapan turun pulang. satu jam kemudian kami pun langsung bergegas turun, agar tidak kemalaman sampai di pos 1. Rasa lelah, cape dan sakit di kaki ini semua menjadi satu. Tapi karena jalur turun, lumayanlah tidak begitu menguras tenaga, hanya butuh ekstra hati-hati supaya tidak jatuh terpeleset.

Dalam perjalanan turun, lembah edelweis pun kami lewati. sungguh pemandangan yang apik yang terhampar didepan mata. Edelweis sang bunga abadi, tertata rapih, menciptakan lukisan tersendiri…sayang, tangan ini sudah terlalu lelah untuk mengambil kamera dan mengabadikannya. Akhirnya saya pun puas mengabadikan lukisan alam tersebut dengan mata saya saja.

Sampai di Pos 5, kami istirahat sambil membuka sisa logistik dan memasaknya semua. Selain untuk makan siang, juga untuk mengurangi beban bawaan kami semua. Kami pun bertemu rombongan pendaki lain yang baru akan naik hari itu…Suasana di Pos 5 saat itu sangatlah riuh.

Logistik sudah habis, energi sudah terisi kembali, kami semua pun melanjutkan perjalanan langsung menuju Pos 1. Dalam perjalanan turun ini, saya lebih banyak berjalan sendiri, bergantung pada akar-akar pohon yang kuat sebagai tempat untuk menahan beban badan saya. Kadang-kadang saya merasa takjub melihat jalur pendakian itu….Takjub juga bahwa satu hari sebelumnya saya sanggup untuk menaklukkan jalur itu.