Tak terasa, perjalanan menyebrangi selat Lombok pun berakhir sudah. Pukul 06.00 sore WITA, kapal yang membawa kami menuju pelabuhan Lembar, Lombok pun akhirnya merapat di dermaga. Sebenarnya liburan kali ini saya tidak menjadwalkan Lombok sebagai salah satu tujuan dalam itinerary saya, namun karena rasa penasaran akan kecantikan pantai-pantai di Pulau Lombok yang mempesona, saya pun akhirnya berinisiatif untuk bertandang ke Pulau Lombok, walaupun hanya sebentar.

Keindahan Pantai Tanjung Aan – Pantai Kuta Lombok

Keesokan harinya, setelah malam sebelumnya saya total beristirahat akibat rasa lelah selama menempuh perjalanan dari Kuta, Bali menuju Mataram, saya pun langsung mempersiapkan diri untuk langsung menuju arah Lombok Selatan, yang terkenal dengan Pantai Kuta dan Pantai Tanjung Aan- nya. Laju sepeda motor rata-rata 80 KM/jam membawa saya menyusuri Praya, Lombok Tengah hingga tempat tujuan. Sepanjang jalan, saya pun memperhatikan kehidupan masyarakat di Pulau Lombok. Memasuki Praya, jalanan sudah mulai berkelok-kelok dan naik turun, sehingga saya harus ekstra hati-hati dalam mengendarai sepeda motor saya. Saya pun melewati daerah yang sedang dibangun Bandara Internasional Mataram, dimana truk keluar masuk dan jalanan sedikit berdebu.

praya

Kurang lebih 1,5 jam perjalanan saya, tibalah saya di Pantai Tanjung Aan. Beruntung sekali saya pergi bukan saat musim liburan, sehingga suasana Pantai sangatlah sepi, hanya 3-4 turis asing yang sedang berjemur. Namun saya mendapatkan serbuan dari rombongan ibu-ibu penjual kain, yang memang sedang menunggu para wisatawan.

Dari kejauhan, pantulan sinar matahari di pasir putih Pantai Tanjung Aan tampak menyilaukan mata. Benar-benar bersih dan indah pemandangan yang disajikan kepada saya. Tak ingin berlama-lama menikmati pemandangan sekitar, saya pun berganti baju agar dapat leluasa bermain di pantai. Lembut dan putih nya pasir membuat saya memutuskan untuk selalu bertelanjang kaki untuk menikmatinya. Sayang, saat itu matahari sangatlah terik, sehingga saya mengurungkan niat untuk menaiki bukit yang terletak disebelah kanan saya.

menikmati lukisan alam

Puas menikmati keindahan Pantai Tanjung Aan, saya pun melanjutkan tujuan saya menuju Pantai Kuta Lombok. Sebenarnya saya telah melewati pantai ini, namun untuk alasan efektifitasnya, saya pun memutuskan untuk mengunjungi pantai ini sepulang dari Pantai Tanjung Aan.

Di Pantai Kuta ini, lingkungan sekitarnya sudah sangat ramai dengan penginapan-penginapan, mulai dari kelas Backpacker hingga kelas VIP yang berderet di sepanjang jalan. Jenis pasir yang terdapat di pantai ini pun berbeda dengan pasir di Pantai Tanjung Aan. Jenis pasirnya cenderung lebih besar, agak kekuningan dan kasar, sehingga banyak yang menyebutnya pasir lada. Suasana juga sangat lengang.

cheers on kuta beach, lombok

Hanya 1 pasang turis mancanegara yang sedang berjemur di pantai ini. Saya pun sempat berbincang-bincang dengan penduduk lokal. Ternyata mereka antusias dengan kedatangan para turis baik lokal maupun mancanegara, asalkan keadaan pantai selalu dijaga keindahan dan kebersihannya.

Kesederhanaan Suku Sasak, Desa Sade, Lombok Tengah

Puas menikmati keindahan alam di pantai Tanjung Aan dan Pantai Kuta, saya pun melanjutkan perjalanan. Niat saya ingin menikmati keindahan Sunset dari Bukit Malimbu, yang bersebelahan dengan Pantai Senggigi, Lombok Barat. Berarti saya harus kembali membelah pulau Lombok menuju ke arah Barat.

sade village, sasak tribute

Melewati Lombok Tengah, saya pun menyempatkan waktu untuk melihat-lihat kehidupan masyarakat Suku Sasak, yang mendiami desa Sade. Komunitas Suku Sasak di Sade ini merupakan salah satu dari komunitas Suku Sasak yang terbesar di Lombok. Dengan didampingi seorang pemandu, yang juga warga setempat, saya pun berkeliling menyaksikan ritme kehidupan di desa tersebut. Yang paling saya sukai adalah melihat perempuan-perempuan Suku Sasak yang sedang asyik menenun, yang merupakan komoditi utama Suku Sasak.

tenun khas suku sasak lombok

Konon menurut cerita pemandu saya, para perempuan Suku Sasak haruslah mahir menenun sebelum mereka menikah. Apabila mereka telah mahir menenun, maka mereka baru diperbolehkan untuk membina rumah tangga, dan hasil tenunan tersebut untuk membantu suami yang bekerja di Ladang seharian. Selain itu, keunikan Suku Sasak juga terletak dari bahan bangunan untuk rumah yang mereka tempati, yang berasal dari kotoran kerbau. Membersihkannya cukup dengan mempergunakan air. Namun model bangunan rumah mereka, ternyata sangat hangat apabila udara di luar sedang dingin.

berkumpul bersama

Menikmati Matahari Terbenam di Bukit Malimbu

Setelah tak lupa membeli oleh-oleh kain sarung di Desa Sade, saya pun kembali melajukan motor saya ke arah Pantai Senggigi. Sempat salah arah karena agak bingung dengan jalanan kota Mataram, namun saya pun akhirnya berhasil mencapai arah jalan yang dimaksut. Perjalanan ke arah pantai Senggigi sangatlah nyaman. Dengan pemandangan sawah-sawah di kiri saya. Namun cuaca saat itu sangat tidak mendukung, karena sedikit mendung.

Tiba di Pantai Senggigi, saya pun memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan kea rah Bukit Malimbu untuk menikmati matahari terbenam dari situ. Jalanan menuju Bukit Malimbu sudah sangat mulus, meski di beberapa titik masih terdapat perbaikan-perbaikan. Namun saya kembali harus ekstra hati-hati, disebabkan jalanan yang berkelok-kelok menanjak, ditambah agak sedikit licin karena gerimis yang mengguyur Senggigi.

malimbu beach from top

Pukul 05.00 sore WITA, saya pun tiba di Bukit Malimbu. Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata, dengan keindahan pantai Malimbu di bawah sana, dan deburan ombak yang pecah menghantam karang, menambah nikmat saya dalam menikmati alam pulau Lombok. Karena cuaca agak sedikit mendung, maka sunset yang terlihat tidak begitu sempurna. Puas menikmati sore dengan ditemani sebutir kelapa muda, saya pun kembali ke kota Mataram untuk beristirahat, karena keesokan harinya, saya berniat untuk bermalam di Gili Trawangan.

***to be continue