Pesona Gili Trawangan selalu menjadi suatu daya tarik bagi para pengunjungnya, terutama wisatawan mancanegara yang menghabiskan waktu berliburnya di pulau Lombok. Kali ini penulis akan mengajak serta menikmati keindahan dan kecantikan alam Gili (yang berarti pulau kecil) Trawangan yang memang sangat mempesona.

***************************

Pelabuhan Padang Bai, Lombok, sore itu terasa sangat ramai karena kapal Ferry yang mengangkut saya untuk menyebrang dari pulau Bali menuju Lombok bersandar sudah. 6 jam perjalanan laut membuat saya sedikit senang karena bertemu dengan daratan kembali. Kali ini, Lombok memang merupakan tujuan bagi liburan saya, dan tak lupa saya memasukkan Gili Trawangan sebagai salah satu daftar kunjungan saya selama di Lombok. Masih ada waktu semalam untuk saya beristirahat dan berbenah diri, sebelum keesokan harinya menuju tempat wisata yang telah terkenal hingga ke manca negara itu.

MENUJU  GILI  TRAWANGAN

Pukul 07.00 WITA, saya memacu sepeda motor yang telah saya sewa sebelumnya, menuju Bangsal, Saya memutuskan untuk terlebih dahulu mengambil rute hutan Pusuk. Sepeda motor pun saya arahkan menuju Bandara Selaparang untuk kemudian mengambil arah ke hutan Pusuk melalui Rembiga. Jalanan sepanjang hutan wisata Pusuk ini memang sedikit berkelok-kelok dan menanjak, dengan beberapa sisi jalan yang sedikit rusak, hingga saya harus ekstra hati-hati dan cermat memperhatikan jalan. Menembus hutan yang masih lebat membuat perjalanan tersebut sangatlah nyaman. Hamparan pepohonan besar di kanan kiri seperti menjadi canopy yang melindungi pengguna jalan dari sengatan matahari pulau Lombok.

Tiba di Bangsal, langsung saya menitipkan motor di penitipan terdekat yang dikelola oleh warga setempat untuk kemudian bergegas menuju loket untuk membeli tiket penyebrangan. Dengan membayar Rp. 10.000, kita sudah dapat menyebrang dengan mempergunakan public transport berupa perahu motor. Cukup ramai penumpang yang akan menyebrang ke Gili Trawangan saat itu. Selain beberapa turis asing, kebanyakan penumpang adalah penduduk lokal Gili Trawangan yang memang setiap beberapa minggu sekali berbelanja, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk berjualan di Gili. Untung saat itu sudah ada boat yang hampir terisi penuh, sehingga saya tidak perlu menunggu terlalu lama dan terhindar dari para pedagang-pedagang yang kadang kala sudah sampai taraf mengganggu.

WELCOME  TO  GILI  TRAWANGAN

Begitulah kalimat yang terpampang di sebuah papan di dermaga public transport di Gili Trawangan. Perjalanan sekitar 45 menit itu pun berakhir dengan sajian pemandangan pantai dan laut yang sangat indah. Dengan gradasi hijau dan biru serta hamparan pasir putih yang masih bersih, membuat pantai di Gili Trawangan akan selalu mempesona bagi setiap pengunjungnya. Setelah menyelesaikan administrasi di pos keamanan, saya pun bergegas mencari penginapan. Beruntung saya mendapatkan penginapan yang dekat dengan jalan utama Gili, sehingga akan lebih mempermudah akses saya, terlebih lagi dengan adanya fasilitas free koneksi internet membuat saya tidak merasa terputus hubungan dengan luar.

Keberuntungan saya yang lain adalah waktu kunjungan saya saat itu masih masuk low-seasson, sehingga jalanan sepanjang Gili relatif sepi dibandingkan apabila kita berkunjung saat high-seasson. Terlihat beberapa turis, baik berpasangan maupun sendiri, berjalan menyusuri Gili Trawangan. Di sana, kendaraan bermotor dilarang beroperasi, sehingga pengunjung hanya dapat mempergunakan sepeda atau angkutan Cidomo untuk berkeliling Gili apabila tidak ingin berjalan kaki.

Sepanjang jalan utama Gili Trawangan dipenuhi oleh berbagai macam usaha yang mendukung pariwisata Gili Trawangan, seperti Penginapan mewah, restoran dan kafe, operator penyewaan peralatan Scuba Diving, toko souvernir maupun biro-biro travel yang menawarkan berbagai fasilitas dan kemudahan selama di Gili Trawangan.

Di pulau yang sering dijuluki “party island” oleh beberapa wisatawan asing karena tiap malam selalu ada saja hiburan atau party yang digelar oleh kafe-kafe yang ada di sana secara bergiliran ini, tidak memperbolehkan kendaraan yang bermotor berada di pulau ini. Selain berjalan kaki, transportasi utama di pulau ini adalah menggunakan delman atau yang lebih dikenal dengan sebutan Cidomo, ataupun menggunakan sepeda. Bagi para wisatawan yang ingin berkeliling pulau ini dengan bersepeda, terdapat beberapa tempat penyewaan yang tersebar di sudut-sudut jalanan Gili Trawangan.

Selain itu, janganlah heran apabila saat kita mandi, air yang dipergunakan akan terasa asin dan sedikit lengket di badan, terutama bagi mereka yang menginap di hotel-hotel kecil ataupun homestay. Air segar menjadi salah satu barang langka disini, selain listrik. Sehingga tak jarang, di siang hari, terdapat beberapa tempat yang mendapat giliran pemadaman listrik untuk dapat mencukupi pasokan listrik di malam hari.

Selesai urusan check-in dan bongkar muat barang bawaan, saya pun menuju pantai untuk sekedar leyeh-leyeh menikmati cuaca yang sedikit mendung siang itu. Ada beberapa turis asing yang dengan santainya membuka atasannya (topless) dan kemudian berjemur atau sunbathing di pinggir pantai, sementara yang lainya asyik berenang di tepian pantai. Saya pun mengurungkan niat untuk bermain air siang itu dan lebih memilih untuk bersantai di beruga yang terdapat di pinggir pantai, di sisi barat pulau. Entah karena masih lelah dan ditambah semilir angin pantai yang segar, membuat saya tertidur untuk beberapa saat di beruga dan menyadari hari sudah menjelang sore saat saya membuka mata.

MENIKMATI  SUASANA  MALAM  DI  GILI  TRAWANGAN

Sore sudah berganti malam. Sunset yang saya tunggu-tunggu tak kunjung terlihat, karena tiba-tiba awan mendung yang lumayan tebal menyelimuti sisi barat pulau Lombok. Saya pun kembali ke hotel untuk mandi dan bersiap-siap menikmati hiburan malam di Gili Trawangan.

Menurut informasi yang saya lihat di sepanjang jalan, malam itu diadakan Beach Party oleh Tir Ta Nog Cafe, yang terletak tidak jauh dari penginapan saya. Namun waktu masih menunjukkan pukul 7 waktu setempat dan perut saya sudah meminta untuk diisi. Berbagai restoran menawarkan menu makanan beragam di sini. Mulai dari menu ala Eropa, hingga menu seafood, seperti udang, cumi, barakuda, kakap, kerapu dan sebagainya, tertata rapi di pinggir jalan, fresh dan siap diolah sesuai pesanan pembeli.

Selain restoran-restoran yang menawarkan hidangan beragam, terdapat pula warung-warung makan yang dikelola oleh penduduk Gili Trawangan, yang menawarkan menu sederhana dengan harga yang tidak terlalu mahal. Saya pun duduk di salah satu sudut warung makan itu sambil menikmati dinginnya hembusan angin laut.

Waktu telah menunjukkan pukul 10 malam. Ternyata kafe yang akan mengadakan beach party malam itu sudah mulai ramai pengunjung. Saya pun ikut larut dalam kegembiraan malam itu hingga tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 03 dinihari. Satu per satu pengunjung meninggalkan kafe, begitu pula dengan saya yang langsung menuju penginapan untuk beristirahat karena saya sudah merencanakan untuk ber-snorkeling keesokan harinya.

MENYUSURI  KEINDAHAN BAWAH LAUT GILI  SISTER

Sebutan Gili Sister sering diberikan pada gugusan gili di Lombok Barat ini, yaitu Gili Meno, Gili Air dan Gili Trawangan, tempat saya menginap saat ini. Selain terkenal dengan keindahan pantainya, salah satu tujuan wisatawan datang ke sini adalah untuk menikmati keindahan alam bawah lautnya. Hal tersebut pula yang membuat beberapa operator selam berlomba-lomba menawarkan harga yang kompetitif bagi para wisatawan yang ingin menikmati keindahan bawah laut Gili ini. Beberapa titik penyelaman di sekitar Gili ini menawarkan spot-spot terbaik mereka, seperti Manta Point, Stingray, Shark Point dan beberapa tempat yang masih menawarkan kaindahan terumbu karang dan ikan-ikan hiasnya. Sehingga banyak yang menyebutkan bahwa di sini merupakan salah satu dive spot terbaik di Lombok.

Bagi wisatawan yang tidak bisa menyelam seperti saya, snorkling merupakan suatu alternatif yang dapat dilakukan untuk dapat pula menikmati keindahan alam bawah laut Gili Trawangan ini. Pengunjung dapat menyewa perahu motor yang dapat membawa kita ke spot terbaik untuk snorkeling. Selain itu, alat-alat snorkling seperti google, snorkle dan fin banyak disewakan di sepanjang jalan, sehingga kita tidak usah terlalu khawatir apabila lupa membawa perlengkapan milik pribadi.

Pagi itu, saya menyewa perahu motor untuk mengantarkan saya ber-snorkling ria di sekitar Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Sayang di beberapa tempat, banyak terlihat terumbu karang yang sudah rusak akibat racun Sianida yang dipergunakan untuk menangkap ikan, yang mengakibatkan terumbu karang tersebut mati. Namun saya masih terhibur dengan beberapa tempat yang masih bagus dan saya beruntung dapat bertemu dengan 2 ekor penyu yang berukuran lumayan besar.

Namun apabila pengunjung masih enggan melakukan snorkeling, masih ada satu cara untuk menikmati pesona alam bawah laut Gili Trawangan ini, yaitu dengan catra menaiki perahu motor yang bagian dasarnya dilubangi dan dilapisi dengan kaca atau lebih dikenal dengan sebutan glass bottom boat, sehingga pengunjung dapat melihat dasar laut tanpa harus menyelam. Biasanya glass bottom boat ini berangkat setelah kapasitas penumpangnya telah terpenuhi. Jadi memang harus sedikit sabar apabila pengunjung menggunakan jasa layanan tersebut.

KEMBALI MENUJU MATARAM

Puas ber-snorkle mengelilingi Gili Sister, saya pun langsung kembali ke penginapan untuk segera beres-beres dan check-out hari itu. Takut tertinggal perahu motor yang akan membawa saya kembali menuju Bangsal, saya pun tergesa-gesa meninggalkan penginapan menuju loket pembelian tiket. Namun ternyata kali ini saya kurang beruntung, karena ternyata saya harus menunggu kapal penuh sekitar 1,5 jam. Setibanya di Bangsal, saya langsung menuju tempat penitipan motor, dan melajukan motor meninggalkan Bangsal, menuju Mataram. Masih terbayang kecantikan dan keindahan Gili Trawangan, dan lamunan saya pun melayang jauh, seiring tangan saya menambah kecepatan laju sepeda motor saya.

***to be continue