e


Sebagai salah satu komunitas suku tertua di Lombok, Suku Sasak banyak tersebar di hampir sebagian besar wilayah Lombok. Salah satunya masyarakat Suku Sasak yang berada di Dusun Sade, Lombok Tengah, yang dapat memberikan gambaran mengenai kehidupan masyarakat asli Lombok ini.

**********

Melintasi daerah Praya, Lombok Tengah, tak sengaja saya melihat papan petunjuk yang menginformasikan bahwa di daerah yang terletak di Kabupaten Lombok Tengah tersebut, terdapat sebuah desa Tradisional, tempat penduduk asli Suku Sasak bertempat tinggal.

Tergoda untuk mengetahui seluk beluk kehidupan suku yang disebut-sebut sebagai suku tertua yang menghuni pulau Lombok ini, saya pun menghentikan motor di depan gapura Dusun Sade. Setelah membayar sumbangan sukarela dan menulis buku tamu, saya pun langsung berkeliling dengan ditemani seorang pemandu yang merupakan penduduk asli desa tersebut.

KEHIDUPAN SUKU SASAK

Dusun Sade berada di pinggir jalan dari Kota Mataram menuju Praya, ibukota Lombok Tengah. Jarak dari kota Mataram kurang lebih 20 kilometer atau setengah jam perjalanan dengan mobil. Saat memasuki areal pemukiman, ternyata sudah banyak beberapa wisatawan asing yang sedang berkunjung juga. Beberapa anak kecil yang menjajakan souvenir seperti gelang, gantungan kunci dan mainan berbentuk kodok, menyerbu beberapa tamu termasuk saya, meminta agar saya membeli dagangan mereka.

Menurut informasi dari pemandu saya, aktifitas utama masyarakat di Dusun Sade ini pada umumnya bertani, kecuali bagi mereka yang masih bersekolah dan bertugas sebagai pemandu wisata. Selain bertani, aktifitas lainnya yang terdapat di sini adalah kerajinan Tenun Ikat yang sangat diminati, baik oleh wisatawan lokal maupun wisatawan manca negara. Kerajinan tenun Ikat ini merupakan warisan turun temurun dari jaman nenek moyang mereka. Penggunaan kerajinan Tenun Ikat ini pada awalnya memang ditujukan untuk busana adat, yang dipergunakan baik dalam pesta, busana pemimpin adat maupun kaum bangsawannya.

Suku yang saat ini memiliki jumlah penduduk sekitar 700 orang ini adalah penganut agama Islam, namun masih dipengaruhi oleh budaya Hindu dan animisme. Jumlah rumah di dusun ini dibatasi hanya 150, sehingga warga Sasak yang tidak bisa membangun rumah di kampung ini, membangun rumah di dusun-dusun di sekitar Sade.

PEREMPUAN SUKU SASAK

Dibandingkan dengan kaum lelaki yang lebih banyak berladang, aktifitas keseharian dari perempuan Suku Sasak ini, lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menenun. Keahlian turun-menurun dari nenek moyang mereka memang merupakan hal yang diwajibkan bagi perempuan dewasa Suku Sasak, terutama bagi mereka yang akan melanjutkan ke jenjang perkawinan. Biasanya para kaum perempuan itu belajar menenun semenjak masih duduk di bangku pendidikan tingkat menengah.

Banyak anggapan, dengan pandainya perempuan itu menenun, maka sudah dianggap siap untuk berkeluarga dan dapat membantu penghasilan yang diperoleh oleh sang suami kelak. Selain sebagai kegiatan sampingan mereka sehari-harinya, kegiatan menenun ini juga dijadikan sebagai daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Dusun Sade.

RUMAH TINGGAL SUKU SASAK

Saat melintasi sebuah rumah penduduk yang kebetulan terbuka pintunya, saya pun mengajukan permohonan untuk melihat-lihat sekilas keadaan di dalam rumah tersebut pada pemandu saya, dan ternyata saya diijinkan menengok ke dalam rumah suku Sasak.

Berbeda dengan rumah-rumah lainnya, rumah tinggal suku Sasak yang biasanya dikenal dengan sebutan Bale Tani ini, tidak mempergunakan semen ataupun keramik sebagai lantai dan dindingnya, melainkan dengan mempergunakan kotoran sapi yang telah dicampur oleh tanah liat dan sekam. Penggunaan kotoran sapi atau kerbau disini dimaksudkan agar lantai tidak mudah retak dan kuat. Sementara untuk dinding mempergunakan bahan anyaman bambu dan atap jerami, disamping penggunaan kayu sebagai rangka daripada rumah tersebut.

Setiap seminggu sekali, pemilik rumah membersihkan atau mengolesi lantai rumahnya dengan mempergunakan kotoran sapi atau kerbau yang sudah dihaluskan dan dibakar,  untuk menjaga lantai menjadi mengkilap dan tidak lembab (kesat). Selain itu, penggunaan kotoran hewan itu diyakini dapat mengusir lalat dan nyamuk agar tidak berada di dalam rumah tersebut. Uniknya lagi, dengan penggunaan bahan kotoran sapi atau kerbau tersebut, membuat rumah adat Sasak ini akan menjadi dingin saat musim kemarau, dan akan menjadi hangat disaat musim penghujan.

PERNIKAHAN ADAT

Di Suku Sasak, terdapat adat yang sangat unik yang berkaitan dengan hal pernikahan. Jika pada umumnya calon pengantin laki-laki akan meminang calon pengantin perempuan di hadapan keluarga, maka di Sasak, apabila kedua calon pengantin sudah saling suka dan ingin segera melangsungkan pernikahan, maka si laki-laki harus mencuri dan melarikan calon pengantin perempuan tanpa diketahui oleh keluarga si perempuan. Prosesi adat ini disebut Merarik. Dalam mencuri dan melarikan calon pengantin perempuan, pihak laki-laki harus didampingi oleh kerabat atau teman sebagai saksi dan sekaligus pengiring dalam prosesi tersebut.

Calon pengantin perempuan tidak boleh langsung dibawa ke tempat tinggal calon pengantin laki-laki. Melainkan harus dititipkan di kerabat laki-laki, maka setelah menginap satu hari, pihak kerabat laki-laki akan mengirimkan utusan kepada pihak perempuan untuk memberitahukan bahwa anak perempuan mereka telah dicuri dan sedang disembunyikan di suatu tempat, untuk kemudian dilanjutkan pada pembicaraan mengenai pelaksanaan pinangan atau pernikahan tersebut.

***

Tanpa terasa, sudah 2 jam berlalu saya melihat sekilas kehidupan masyarakat suku Sasak di Dusun Sade, Lombok Tengah ini. Di tengah-tengah era modernisme, ternyata masih banyak masyarakat yang tinggal di beberapa tempat di bumi ini yang masih mempertahankan pola sederhana dalam kehidupan kesehariannya. Saya pun meninggalkan Dusun Sade dengan membawa pengalaman baru serta pastinya beberapa helai kain tenun hasil kerajinan tangan mereka.

***to be continue