Menempuh kurang lebih satu setengah jam perjalanan menggunakan sepeda motor dari kota Mataram dengan beberapa kali diiringi hujan yang menderas, tak membuat saya niat saya surut untuk mengunjungi salah satu objek wisata air terjun yang terletak di kabupaten Lombok Tengah ini.Dari foto yang pernah saya lihat, Air Terjun Benang Stokel ini terdiri atas 2 buah air terjun yang berdampingan dan terletak masih di kaki gunung Rinjani.

Memasuki wilayah Sedau, hujan sedikit reda, namun saya tidak dapat melajukan sepeda motor dengan kecepatan tinggi, karena jalan yang saya lalui sangat licin dan berkelok-kelok, sehingga harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset.

Minimnya petunjuk arah membuat saya harus berulang kali turun dari motor untuk menanyakan arah dan perkiraan waktu mencapai tepat yang saya inginkan. Hampir setiap saya menayakan arah Air terjun Benang Setokel ini, dijawab dengan jawaban yang seragam, “Lolos….sekitar 1 jam lagi”, padahal saya menanyakan hal tersebut dengan jarak yang berbeda jauh antara tempat yang satu dengan tempat yang lain. Akhirnya saya hanya bisa tersenyum apabila bertanya dengan penduduk setempat dan dijawab dengan jawaban yang sudah saya tebak sebelumnya. Berikutnya saya hanya menanyakan petunjuk arah untuk mencapai Air Terjun tersebut, tanpa ada keinginan menanyakan berapa lama lagi saya tiba di tempat tersebut.

Akhirnya tibalah saya di Gerbang Aik Bukak, dan langsung berbelok ke kiri setelah saya melihat jalan kecil tersebut. Kali ini jalan yang saya lalui tidak terlalu bagus. Sudah aspal memang, namun terdapat beberapa bagian yang rusak. Mata saya pun sedikit dimanjakan oleh alam, karena jalan yang saya lewati membelah sawah-sawah yang sedang menghijau dan udara yang reatif masih bersih dibandingkan di kota.

Kurang lebih 20 menit saya terus memacu motor saya, akhirnya saya sedikit menyadari jika daerah yang sedang saya lewati agak sedikit sepi dibandingkan sebelumnya. Insting pun mengatakan arah yang saya tuju sudah terlewat. Beruntung ada seorang anak kecil yang sedang melintas di jalan tersebut. Tanpa basa-basi, saya pun kembali bertanya jalan menuju Air Terjun Benang Stokel, dan benar saja ketika bocah tersebut mengatakan bahwa saya sudah terlalu jauh melewatinya.

Setelah berbekal informasi dari bocah tersebut, saya pun berputar arah kembali dan mencari pertigaan di daerah pasar. Ternyata saya memang tidak melihat pertigaan tersebut dan memang belum terdapat petunjuk arah menuju air terjun. Satu-satunya yang bisa saya jadikan petunjuk adalah keberadaan kantor Pegadaian di pasar tersebut.

Jalanan yang saya tempuh kali ini lebih jelek dari yang sebelumnya, sehingga laju kecepatan motor terpaksa saya kurangi. Namun memang seharusnya saya tidak melaju kencang, dikarenakan suasana pedesaan yang asri menemani perjalanan saya kali ini.

Kembali di persimpangan jalan, namun kali ini saya melihat petunjuk arah menuju air terjun. Jalanan pun sedikit menanjak dan rusak, sehingga harus ekstra hati-hati di sini. Tanpa terasa, saya pun tiba di gerbang utama untuk menuju wisata air terjun Benang Setokel ini. Setelah menaruh motor di tempat parkir yang tersedia, saya menuju loket untuk membayar tiket masuk dan langsung menuju jalan setapak yang akan menghantar saya menuju air terjun Benang Setokel.

Ternyata di sana terdapat jalan setapak yang dapat menuju Danau Segara Anak, gunung Rinjani, dan informasi yang saya peroleh dari penjaga loket, waktu tempuh menuju danau sekitar 10 jam berjalan santai. Namun sisi yang dituju akan berbeda apabila kita pergi dengan menggunakan jalur pendakian Senaru/Sembalun.

10 menit menyusuri setapak di hutan yang tidak terlalu lebat, saya pun dapat mendengar suara air yang bergemuruh di kejauhan. Ternyata akses menuju Air Terjun Benang Setokel sudah sangat bagus (paving block) sehingga nyaman untuk berjalan kaki. Dari atas sudah tampak dua buah air terjun yang berdampingan. Saya pun mempercepat langkah kaki menuruni anak tangga yang ada.

Tibalah saya di areal air terjun yang sangat lapang, dengan dua buah beruga yang terletak tak jauh dari air terjun tersebut. Kebiasaan saya apabila berwisata alam ke air terjun, pasti dengan nikmatnya saya duduk di pinggiran sambil menikmati keindahan air yang meluncur ke bawah. Ketinggian air terjun ini memang tidak terlalu tinggi, namun suasana asri, hijau dan sepi dikelilingi pohon-pohon besar membuat saya sangat menikmati suasana alam tersebut. Satu lagi kebiasaan saya adalah mengunjungi tempat-tempat seperti ini bukan pada saat akhir minggu, agar lebih sepi dan tenang.

Namun keasyikan saya agak terganggu dikarenakan hujan tiba-tiba kembali turun. Karena lumayan deras, saya pun menuju Beruga untuk sekedar beristirahat dan menikmati bekal yang saya bawa, dan tanpa terasa saya pun terlelap ditemani dinginnya hawa hujan. Lumayan deras dan lama hujan saat itu, sehingga membuat saya mengurungkan niat pergi ke satu lagi air terjun yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 30 menitan dari tempat saya beristirahat, yaitu Air Terjun Benang Kelambu. Terbersit sedikit rasa sesal, namun saya pun tidak bisa menyalahkan alam sepenuhnya. Dan yang bisa saya lakukan hanyalah menikmati rinai hujan yang semakin mereda seiring sore menjelang.

Sore telah tiba dan hujan pun reda sudah. Saya memutuskan untuk menyudahi kunjungan saya di Air Terjun ini dan kembali menuju pelataran parkir. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan beberapa penduduk yang ada di sana, saya lalu melajukan sepeda motor. Kembali saya melewati desa dan sawah-sawah yang terhampar, untuk kembali ke kota Mataram, diiringi sejuknya hawa dikarenakan hujan yang turun sebelumnya.

=============

note : Lolos dalam artian para penduduk lombok, berarti terus….