Daerah wisata yang terletak di daerah Banyuwangi, Jawa Timur ini, pesonanya sudah terkenal hingga ke kalangan turis atau wisatawan manca negara. Warna danau kawah Ijen yang berwarna hijau tosca dan penambangan belerang secara tradisional, merupakan daya tarik tersendiri dari Kawah Ijen. Sebagi informasi, kawasan penambangan belerang yang masih dilakukan secara tradisional, hanya terdapat di dua tempat di Indonesia, yaitu di Gunung Welirang dan di Kawah Ijen itu sendiri.

Untuk menuju daerah wisata ini, dapat melalui Banyuwangi ataupun Bondowoso. Pada umumnya, para wisatawan akan memilih jalur Bondowoso, karena jalanan yang akan dilalui sudah halus, dan sepanjang perjalanan, memasuki daerah Sempol, akan disambut oleh perkebunan Kopi yang tersebar luas.

Memasuki kawasan Paltuding, udara dingin khas pegunungan yang bersih akan polusi udara, akan terasa menyergap badan kita. Di ketinggian 1,600 mdpl ini terdapat pos milik Perhutani, dimana setiap wisatawan yang akan menikmati indahnya kawah Ijen, diwajibkan mendaftarkan diri disini. Waktu untuk menikmati keindahan kawah Ijen berkisar antara pukul 06.00 pagi hingga pukul 14.00 siang. Melewati jam tersebut, biasanya tidak diperbolehkan mendaki, ditakutkan arah angin akan membawa belerang turun, sehingga akan membahayakan para wisatawan.

Dari Paltuding, jarak sekitar 3 km ke Kawah Ijen yang terletak diketinggian sekitar 2,400 mdpl, dapat ditempuh dalam waktu sekitar 2 hingga 3 jam berjalan santai. Jalan yang dilalui relatif mudah, dikarenakan sudah terdapat jalur pendakian yang lebar. Namun menuju 2 kilometer pertama, jalanan yang harus dilalui terus menanjak. Dalam perjalanan menuju Kawah Ijen, dapat dijumpai penambang-penambang belerang tradisional, yang membawa beban belerang kurang lebih 80 kilo dalam sekali angkut, dengan cara dipanggul. Biasanya mereka mengangkut belerang 2 kali dalam satu hari, sehingga apabila diperhatikan, akan terlihat dengan jelas bekas di punuk mereka.

Jika berjumpa dengan para penambang belerang yang sedang beristirahat, tidak ada salahnya bagi kita melakukan interaksi atau sekadar menawarkan rokok dan permen untuk mereka. Biasanya mereka akan dengan ramah menyapa para wisatawan, dan sesekali menawarkan beberapa cinderamata dari belerang, yang telah mereka cetak dengan bentuk-bentuk yang lucu.

Memasuki 1 km terakhir, bau belerang sudah akan tercium dan sangat menusuk indera penciuman kita. Jalan yang harus dilalui pun sudah tidak menanjak seperti sebelumnya. Hutan tropis di kanan kiri jalur menuju kawah Ijen, sangatlah menbuat sejuk bagi mata yang memandangnya.

Tiba di bibir kawah, akan terlihat pemandangan yang menakjubkan di depan mata. Kombinasi antara para penambang belerang dengan latar belakang unsur alam seperti danau yang berwarna hijau tosca, endapan belerang berwarna kuning terang, kepulan asap belerang, kaldera berwarna putih, berpadu dalam sebuah harmoni kehidupan akan membayar semua rasa lelah berjalan kaki yang hinggap.

Apabila cuaca sangat cerah dan asap belerang tidak menutupi danau, maka kawah Ijen akan sangat cantik dilihat dari atas dan kita dapat langsung mengintip penambangan belerang di tepi danau kawah Ijen. Di sumber belerang, terdapat pipa yang akan mengalirkan bara fumarol yang berwarna merah, dan kemudian akan membeku karena cuaca dingin, menjadi berwarna kuning terang. Belerang beku ini lah yang nantinya akan diambil oleh para penambang-penambang belerang tersebut. Dengan mempergunakan linggis untuk memecah bekuan belerang menjadi lebih kecil. Asap belerang yang keluar sangatlah pekat. Sehingga akan menyulitkan siapapun, tak terkecuali para penambang itu, untuk bernafas dengan baik, sehingga tak heran jika mereka selalu menutupi hidung mereka dengan syal atau menggigit sarung mereka, sebagai penyaring dari asap tersebut.

Untuk menuju permukaan danau, dibutuhkan perhatian yang ekstra hati-hati, karena batu-batu disepanjang dinding kaldera, amat rapuh bila terinjak, sehingga biasanya para wisatawan mengikuti jalur para penambang belerang untuk ikut turun ke permukaan danau. Aktifitas lainnya adalah berjalan mengelilingi kaldera kawah Ijen, namun sangat tidak dianjurkan jika cuaca sedang tidak bersahabat.

Disamping menikmati keindahan dan pesona danau kawah Ijen, objek wisata lainnya yang tidak begitu jauh adalah kawasan Cagar Alam Ceding, daerah Belawan. Di cagar alam sebesar 2 hektar ini, terdapat air terjun yang panas, dimungkinkan merupakan aliran air yang mengandung belerang, sehingga apabila kita berdiri di dekat air terjun tersebut, percikan air yang terkena kulit kita pun akan terasa hangat. Air terjun panas Belawan ini merupakan air terjun panas dengan debit air terbesar. Namun tidak jauh dari air terjun tersebut, terdapat mata air yang bermuara pada sebuah sungai, dan air tersebut dingin. Sebuah fenomena alam yang patut kita syukuri. Selain air terjun panas, terdapat pula pemandian Dawar wulan dan Goa kapur, yang diyakini pendududuk setempat sebagai tempat persembunyian Damar wulan, saat melawan Minak Jinggo pada masa kerajaan Majapahit.

Untuk tempat penginapan, bagi mereka yang menginginkan tempat menginap dengan suasana perkebunan, pegunungan, dapat mempergunakan Guest House Perkebunan Kopi PTP Nusantara XII di Kalisat yang terletak didalam kompleks perumahan perkebunan. Namun apabila ingin menikmati udara alam bebas, dapat pula mendirikan tenda-tenda di lapangan yang terdapat di areal pos Perhutani di Paltuding, atau menyewa pondok wisata yang tedapat di Paltuding.