Pesona wisata bahari provinsi Lampung tidak hanya Pantai Mutun atau Kalianda atau atraksi Gajah yang terdapat di Way Kambas. Masih ada wisata alam lainnya yang tidak kalah menariknya di daerah Teluk Kiluan, Lampung Selatan, yaitu melihat atraksi Lumba-lumba di perairan lepas.

Menuju Teluk Kiluan. Saat itu sekitar pukul 03.00 dini hari, kami bersembilan telah berada di Kapal Laut untuk menyebrangi selat Sunda dari Merak menuju Bakauheni. Seperti yang telah kami rencanakan sebelumnya, kami berniat untuk mengunjungi Teluk Kiluan yang terletak di daerah Lampung Selatan, yang terkenal dengan atraksi Lumba-lumba di samudera lepas (seperti yang selama ini terkenal di Pantai Lovina – Bali). Teluk Kiluan tersebut sendiri terletak Kecamatan Kelumbayan, Tanggamus, Lampung Selatan, kurang lebih sekitar 80 KM dari kota BandarLampung.

Sekitar pukul 05.00 pagi, kami pun tiba di pelabuhan Bakauheni dan melanjutkan perjalanan kami menggunakan mobil kijang yang telah kami sewa sebelumnya, menuju Teluk Kiluan. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 2 jam dari arah Pelabuhan Bakauheni, kami pun melewati daerah Lempasing dan Mutun. Jalan ke daerah ini masih terbilang bagus, namun agak sedikit berkelok-kelok, naik dan turun, sehingga mulai dari sini, mobil kami berjalan tidak terlalu cepat.

Setelah melewati daerah Lempasing, pemandangan yang terhampar sangatlah menyegarkan mata. Di kanan kiri kami terdapat hutan-hutan dengan bermacam-macam pepohonan yang menyejukkan mata. Selama perjalanan ini pula, kami disuguhkan pemandangan  perkampungan di Lampung Selatan, dengan rumah panggung sebagai ciri khas-nya, menjadi daya tarik tersendiri dalam perjalanan kali ini.

Kurang lebih 4 jam kami menyusuri daerah pesisir pantai dengan kontur jalan bergelombang hingga rusak, akhirnya kami tiba di Desa Bawang dengan kondisi jalan yang sangat berbeda dengan sebelumnya, yaitu lebih rusak dan berbatu.

Dari pasar bawang menuju Kiluan, medan bertambah berat. Perjalanan yang kami lakukan melalui Gunung Tanggamus (1.126 mdpl) yang merupakan rangkaian pegunungan Bukit Barisan. Jalan yang kami lalui kebanyakan menanjak dengan batu-batu besar. Mobil sempat berhenti sejenak untuk mengenal medan, dan satu kali saya turun untuk mengganjal ban mobil agar tidak selip. Setelah beberapa lama akhirnya kami tiba di pertigaan jalan, dan terdapat papan penunjuk arah menuju Kiluan. Dari tempat ini, Teluk Kiluan dan Pulau Kelapa sudah dapat terlihat dibawah sana. Dari pertigaan tersebut, jalan menukik curam dan tetap berbatu.. Dikarenakan jalanan yang sangat curam, maka sebagian dari kami turun agar mobil tidak kelebihan beban. Dengan bebas, saya pun lari meluncur menuruni turunan terjal yang berbatu dan berdebu itu.

Siang telah menggantung, panas telah menyengat, kami pun tiba di Kampung Bali (disebut demikian, karena kampung ini dihuni oleh orang-orang Bali). Setelah melewati Pura besar tempat bersembahyang warga kampung Bali, tak lama kemudian, tibalah kami semua di Teluk Kiluan, lalu kami pun menunggu kapal yang akan menyebrangkan kami ke Pulau Kelapa yang sudah terlihat dari dermaga Teluk Kiluan. Dengan dua perahu nelayan, menyebranglah kami menuju pulau tersebut. Dari kejauhan telah terlihat hamparan pantai yang masih relatif bersih dari sampah-sampah dan pohon-pohon  yang masih belum terjamah.

Tak lama setelah kami menaruh ransel kami masing-masing di penginapan (penginapan disini berupa rumah panggung yang dibuat dari pohon kelapa), kamipun langsung bergegas menuju arah selatan pulau, dimana tadi kami melihat susunan batu-batu besar yang memecah ombak dari samudra Hindia. Beberapa dari kami pun langsung menikmati dinginnya  pantai di pulau Kiluan. Ombak sore yang agak kencang, membuat kami terombang-ambing selama kami ber-snorkeling menikmati ikan-ikan yang banyak terdapat di sekitar karang di pantai tersebut.

Sore pun menjelang, ingin menikmati sunset, tapi dikarenakan cuaca yang tidak begitu cerah, maka sunset yang sempurna yang kami harapkan pun tidak muncul. Puas kami bermain-main di pantai dan berfoto-foto kami pun kembali ke penginapan untuk mandi dan makan malam.

****

Keesokan harinya pukul 08.00 WIB, kami bersiap-siap untuk menikmati suguhan sekawanan lumba-lumba yang menari bebas di Samudera Hindia. Untuk melihat pertunjukan tersebut, dari arah Pulau Kelapa, kami menggunakan perahu nelayan menuju ke arah lintasan lumba-lumba tersebut selama kurang lebih 20 menit.

Lumba-lumba Menari

Saat kami tiba di daerah lintasan lumba-lumba tersebut, dari kejauhan telah terlihat sekawanan lumba-lumba yang sedang berenang berkejar-kejaran. Langsung saja kapten kami menambah laju perahu dan mengarahkan ke kawanan lumba-lumba tersebut. Setidaknya ada dua jenis lumba-lumba di perairan ini, spesies pertama adalah lumba-lumba hidung botol (Tursiops Truncatus) dengan badan yang lebih besar dan pemalu. Spesies yang kedua adalah lumba-lumba paruh panjang (Stenella Longirostris). Untuk jenis yang kedua, atraksi melompat sering dilakukan oleh lumba-lumba yang lebih kecil, terlebih jika kita memberikan umpan ikan kecil kepada mereka. Informasi dari penduduk setempat, lumba-lumba itu memang  sering show off, seakan-akan tahu kalau dirinya sedang menjadi pusat perhatian. Menurut informasi pula, wilayah ini merupakan wilayah dengan populasi lumba-lumba terbanyak di Asia Tenggara.

Sekitar 1 jam lebih kami menyaksikan atraksi sekawanan lumba-lumba tersebut. Perahu motor kami pun mondar-mandir mengikuti arah lintasan lumba-lumba itu. Tak jarang lumba-lumba tersebut muncul di tepi perahu kami, seakan-akan ingin mengajak kami bermain bersama, ataupun muncul tiba-tiba tepat di depan perahu motor kami (Lumba-lumba dikenal sebagai hewan mamalia yang dapat menunjukkan arah bagi para nelayan dengan berenang di depan kapal mereka). Setelah lumba-lumba tersebut puas bermain-main, maka satu persatu dari mereka pun kembali ke arah samudera lepas dan tidak menampakkan dirinya kembali. Lumba-lumba itu pun akan menampakkan dirinya kembali keesokan pagi harinya dan bermain-main di daerah lintasan selama kurang lebih 2-3 jam, untuk kemudian kembali ke samudera lepas, demikianlah seterusnya.

Snorkeling di Pulau Kiluan

Setelah puas melihat lumba-lumba dan menghantarkan mereka kembali ke tengah samudera, kapal kami pun berbalik arah, kembali menuju pulau kiluan. Sebelum singgah untuk snorkeling, kami mengitari pulau tersebut dengan kapal kami, sehingga keseluruhan daerah pulau tersebut dapat kami lihat. Untuk bagian selatan pulau kiluan, terdapat bebatuan yang sangat besar, dan biasa dipergunakan sebagai tempat memancing.

Setelah mengelilingi pulau, kami pun menuju spot snorkeling yang terdapat di sekitar pulau kiluan. Namun karena saya tidak memakai google dan snorkel, maka visibility underwater saya kurang begitu jelas. Di spot pertama, terumbu karang jenis meja sangat banyak terlihat, namun ikan-ikan hias kurang begitu banyak di spot tersebut.

Karena air yang agak keruh di spot pertama, akhirnya kami pindah ke spot yang lain (yang sebenarnya telah kami datangi sore kemarin, namun karena kencangnya gelombang, kami tidak bisa explore sepuasnya).

Di spot kedua ini, terumbu karangnya agak banyak dan masih relatif bagus. Ikan-ikan hias juga banyak disini. Mungkin karena terhalang dua batu besar dari hantaman gelombang, maka ikan-ikan itu seperti mendapatkan tempat berlindung bagi mereka semua.

Setelah puas menikmati atraksi lumba-lumba dan ber-snorkeling di Pantai Pulau Kelapa, kami pun kembali ke penginapan untuk beristirahat. Dari perbincangan kami dengan Bang Dirham (pengelola penginapan Pulau Kelapa) dahulu lumba-lumba tersebut sering menampakkan diri mereka lebih dekat ke arah pantai. Namun seiring dengan maraknya perburuan Lumba-lumba tersebut, mereka pun sudah tidak pernah lagi menampakkan diri mereka di dekat pantai. Sayang sekali, melihat kelincahan mereka harus dikotori oleh tangan liar pemburu-pemburu tersebut.