Taman Nasional Ujung Kulon merupakan salah satu primadona para penikmat alam yang menginginkan paket berwisata secara lengkap, mulai dari hutan, pantai, pemandangan alam bawah laut, padang penggembalaan dan gunung serta wisata bawah lautnya.


Perjalanan menuju Taman Nasional Ujung Kulon dapat dikatakan perjalanan panjang yang melelahkan, namun memberikan sensasi tersendiri. Agak siang memang perjalanan saya menuju Ujung Kulon. Waktu baru menunjukkan pukul 11.00 WIBB ketika mobil yang saya tumpangi keluar Tol Timur Serang. Masih 7 jam lagi saya akan tiba di Desa Taman Jaya.

Keluar kota Serang, kami pun langsung menuju kota Pandeglang, untuk kemudian menuju arah Labuan. Jalan yang kami lalui masih terbilang bersahabat, namun sedikit berkelok-kelok dan naik turun. Tiba di pertigaan menuju PLN Labuan, kami pun mengambil arah kiri. Jalanan yang kami lalui sudah berbeda dengan sebelumnya. Kondisi jalan berlubang membuat supir kami harus mengeluarkan kemampuannya untuk bisa menghindari lubang-lubang yang besar itu.

Kurang lebih pukul 17.00 WIBB kami memasuki desa Sumur. Bagi sebagian pengunjung, mereka biasanya menyebrang ke Pulau Peucang melalui desa Sumur ini. Namun kali ini, saya menggunakan rute awal dari desa Taman Jaya, sehingga perjalanan masih memakan waktu kurang lebih satu hingga 2 jam, mengingat kondisi jalanan yang sangat rusak.

Desa Taman Jaya

Sekitar pukul 19.00 WIBB, setibanya di desa Taman Jaya, kami langsung menuju tempat menginapan kami untuk malam pertama. Ternyata Pak Komar, pemilik penginapan Sunda Jaya, sudah menanti kami dari tadi. Rasa lelah sepanjang perjalanan ini sedikit terobati dengan suguhan teh manis hangat dan makan malam. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan Pak Komar mengenai rute yang akan saya tempuh untuk 2 hari kedepan, saya pun langsung masuk ke kamar untuk mengistirahatkan badan ini yang mulai terasa lelah dan hujan yang mengguyur desa Taman Jaya menambah nikmatnya istirahat saya malam itu.

Keesokan harinya, sebelum berlayar menuju Pulau Peucang, saya menyempatkan diri untuk berkeliling di desa Taman Jaya. Kondisi desa yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Ujung Kulon ini kebetulan sepi, karena semua anak-anaknya pergi ke sekolah, sedangkan beberapa warga sibuk di sawah atau di laut ataupun di warung-warung mereka. Akhirnya saya pun kembali ke penginapan untuk sarapan dan kembali membereskan segala sesuatunya sebelum menuju Pulau Peucang.

Berlayar menuju Pulau Peucang

Kurang lebih pukul 09.00 WIBB, semua awak kapal, nahkoda, local-guide dan saya telah siap untuk menyebrang ke Pulau Peucang. Sebenarnya ada beberapa Pulau yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, seperti Pulau Peucang, Panaitan, Badul dan Pulau Handeuleum. Namun untuk kunjungan saya kali ini, saya hanya menuju Pulau Peucang, dikarenakan keterbatasan waktu yang saya miliki.

Dengan menggunakan kapal nelayan berukuran besar, saya pun berlayar menuju Pulau Peucang. Butuh waktu sekitar 3 jam yang diperlukan untuk menempuh jarak antara Dermaga Taman Jaya ke Pulau Peucang. Untung saja cuaca sangat cerah di pagi itu, sehingga saya dapat bersantai di atas kapal, menikmati perjalanan dan langit biru sambil menikmati alunan suara Leonel Richi melalui ear-phone saya.

Tepat pukul 12 siang, kapal merapat di dermaga Pulau Peucang. Ternyata sudah ada 1 rombongan dari Jakarta yang telah menginap semalam dan rombongan dari Sekolah Alam, Ciganjur, yang juga sedang menambatkan kapalnya. Cuaca sangat cerah. Dari pinggir dermaga saja saya dapat melihat jernihnya air di pantai Pulau Peucang. Ikan-ikan kecil dan sesekali beberapa ikan berukuran sedang, berkeliaran di sekitar kapal dan di bawah dermaga. Sehingga tak jarang para ABK memancing di dermaga.


Di Pulau Peucang ini, bermacam habitat dapat ditemui, diantaranya Rusa, babi hutan, monyet dan Merak. Kemunculan hewan-hewan ini di pagi dan sore hari menjadikan daya tarik tersendiri dari Pulau Peucang. Hewan-hewan ini pun bebas berkeliaran di areal penginapan, dan pengunjung pun dapat sesekali berinteraksi dengan mereka. Namun untuk monyet, monyet-monyet di pulau Peucang terkenal sangat buas dan nakal. Sedikit saja kita lengah menaruh barang bawaan kita (entah itu makanan atau sesuatu yang dibungkus dengan plastic hingga HP), maka monyet-monyet tersebut akan merebutnya dari tangan kita. Pada saat kunjungan saya ini, saya kurang beruntung karena tidak ada satupun Merak yang keluar dari hutan, sehingga saya hanya bermain-main dengan rusa-rusa yang sangat jinak.

Menikmati ALam Bawah Laut Ujung Kulon

Setidaknya terdapat beberapa spot untuk menikmati keindahan alam bawah laut di Taman Nasional Ujung Kulon ini, diantaranya spot untuk snorkeling yaitu Citerjun, Cikuya, Cikembang dan Pulau Badul, sedangkan spot untuk para diver yaitu Karang Copong dan Batu Sero dan Citerjun.

Karena cuaca yang tidak terlalu bagus untuk ber-snorkeling, akhirnya saya harus puas dengan haya mengunjugi 2 spot saja, yaitu Cikembang dan Cikuya. Hamparan koral dengan berbagai macam jenis ikan menjadi pemandangan yang mengasyikkan di Cikembang. Koral-koral disini mirip dengan koral di Taman Nasional Karimun Jawa, dikarenakan termasuk di kawasan laut lepas.

Puas ber-snorkeling di Cikembang, kali ini spot Cikuya yang menjadi pilihan saya. Arus di sini agak lebih kencang dibandingkan Cikembang. Apalagi dikarenakan hari sebelumnya hujan turun dengan deras, maka visibility bawah laut di Cikuya tidak terlalu jernih. Namun saya sangat beruntung menemukan bermacam anemone dan banyak clown fish bermain-main di anemone tersebut. Sekali lagi sangat disayangkan saya tidak membawa kamera under-water, sehingga untuk pemandangan indah yang satu ini tidak dapat saya bagikan kepada umum, hanya dapat saya nikmati sendiri.

Belum puas saya menikmati anemone dan clown fish yang bermain-main di sana, hujan turun kembali mengguyur Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, sehingga niat untuk ber-snorkeling di Citerjun saya batalkan. Kebetulan juga saya agak sedikit kelaparan setelah ber-snorkeling ria, saya pun kembali ke Pulau Peucang untuk menikmati hidangan Mie Instant rebus sambil menikmati hujan yang terus mengguyur Ujung Kulon.

Trekking Cibom – Tanjung Layar

Agenda saya berikutnya adalah Trekking masuk hutan menuju Tanjung Layar. Dimulai dari Cibom, trail yang akan saya tempuh hingga ke Tanjung Layar sekitar 1,66 KM atau sekitar 1 jam jalan santai. Untuk menuju Cibom, diperlukan waktu kurang lebih 15 menit dari dermaga Pulau Peucang. Di Cibom tidak terdapat dermaga sandar, sehingga kapal tidak bisa mendekat. Saya pun menyebrang ke CIbom dari kapal dengan menggunakan perahu Ting-ting kecil. Terdapat sisa-sisa dermaga berupa tangga batu bata dan batang besi sebagai tiang penyangga dermaga. Menurut sejarah, di daerah Cibom pada jaman Belanda akan dijadikan sebagai tempat pelabuhan internasional bagi kapal-kapal dagang Belanda.

Pada trail Cibom – Tanjung Layar, dapat dijumpai pohon Kiara berlubang yang melintang di tengah-tengah jalan. Lubang pada pohon ini seakan-akan merupakan pintu masuk, dengan hiasan akar-akar yang menjuntai ke tanah.

Sebelum tiba di Tanjung Layar, saya melewati bangunan Mercusuar yang sampai saat ini masih dioperasikan oleh Dinas Perhubungan. Ada pula bangunan bekas penjara di jaman Belanda. Bangunan tua yang hanya terdiri dari 3 kamar dengan sebuah lorong sebagai penghubungnya ini masih berdiri kokoh meskipun dimakan usia.

Melewati bangunan bekas penjara Belanda, akhirnya terbentang padang penggembalaan Tanjung Layar yang tampak menghijau tertutup rumput. Banyak kotoran Banteng yang saya temui di sana. Padang ini pula merupakan salah satu tempat favorite untuk berkemah.

Tanjung Layar – The Western Point of Java


Akhirnya saya tiba di titik di ujung paling barat Pulau Jawa. Di Tanjung Layar ini tampak sebuah gejala alam yang unik berupa karang yang menjulang tinggi dan kokoh. Sambil menikmati perbekalan, saya juga menikmati pemandangan hempasan air laut di antara karang-karang kokoh di sekitar Tanjung Layar. Untuk menikmati indahnya pemandangan di Tanjung Layar, bisa juga dilihat dari atas Mercusuar Baru yang langsung disuguhi pemandangan laut lepas. Biasanya beberapa pengunjung akan melanjutkan perjalanan Trekking menuju Pantai Ciramea, namun karena waktu yang tidak memungkinkan dan cuaca yang tidak mendukung, akhirnya saya kembali ke Cibom melewati trail hutan sebelumnya.

Padang Penggembalaan Cidaon

Merupakan padang rumput buatan dan merupakan tempat berkumpulnya satwa liar seperti Merak Hijau, Banteng (Bos Javanicus), Kera ekor panjang, Babi hutan dan berbagai macam jenis burung. Untuk menikmati berbagai macam satwa liar yang ada di sini, terdapat sebuah menara pandang yang terletak di sisi padang penggembalaan.

Saat saya tiba, padang penggembalaan Cidaon ini tidak terlalu ramai oleh para satwa liar tersebut. Terhitung oleh saya terdapat 15 ekor Banteng dan 9 ekor Merak Hijau yang sedang berkeliaran. Dengan langkah yang sangat hati-hati, saya ditemani polisi hutan mencoba mendekat ke arah gerombolan Banteng. Namun saya tidak berani untuk melangkah terlalu dekat, karena mungkin naluri mereka lebih kuat dan penciuman mereka yang lebih tajam, beberapa Banteng dengan serta merta menoleh ke arah kami berdua, sehingga saya memutuskan untuk diam di tempat dan menikmati Banteng-banteng tersebut dalam jarak aman.

Kebetulan waktu masih agak siang, sehingga ketika matahari bersinar dengan teriknya, Banteng-banteng tersebut kembali ke pinggir hutan, dan beberapa langsung masuk ke dalam hutan. Saya pun kembali melangkah untuk melihat beberapa Merak Hijau yang sedang berlarian. Namun kembali niat tersebut saya urungkan, karena ternyata di balik sebuah pohon yang tumbang, terdapat seekor Banteng yang sedang beristirahat di sana.

Kembali ke Desa Taman Jaya menuju Jakarta

Setelah 2 hari menikmati keindahan alam Ujung Kulon, saya pun sudah harus kembali menuju Ibu Kota. Sore harinya kapal kembali ke Desa Taman Jaya. Di tengah perjalanan, langit terlihat sangat gelap dan saya berfikir pasti akan turun hujan sebelum kami merapat ke Dermaga. Benar saja, hujan pun turun lumayan deras. Untuk saja nahkoda kapal saya sangat lihai dan tenang dalam mengemudikan kapalnya, sehingga hati saya pun tenang menikmati hujan yang tidak terlalu lama dalam perjalanan pulang ini.

Karena hari sudah terlalu malam, dan tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan ke Jakarta malam hari, saya memutuskan untuk menginap semalam lagi di Sunda Jaya. Keesokan harinya, sebelum kembali ke Jakarta, saya singgah sebentar di Hutan Cibiuk, dimana di sana terdapat sumber mata air panas alami. Sambil berendam untuk menghilangkan pegal-pegal di kaki, saya pun menikmati suasana hutan yang begitu asri dan tenang.

Puas berendam di sumber mata air panas alami, saya kembali melanjutkan perjalanan menuju Jakarta, yang artinya masih sekitar 10 jam lagi perjalanan saya hingga tiba di rumah. Perjalanan kali ini sangat menambah wacana petualangan saya pribadi. Lain waktu, saya akan kembali ke Taman Nasional Ujung Kulon, dan mencoba untuk Trekking melintasi hutan dari wilayah Selatan ke Utara.