Pesona negeri dataran tinggi Dieng yang selalu menghipnotis semua pengunjungnya, menjadikannya sebagai salah satu objek wisata yang sangat patut untuk dikunjungi. Ulasan kali ini mengisahkan perjalanan pribadi saya untuk dapat menikmati keindahan pesona matahari pagi negri Dieng.

Perjalanan menuju Wonosobo kali ini dimulai dari kota Purworejo pukul 09.00 pagi, Kurang lebih 3 jam kurang berdiam diri di bus tersebut, akhirnya tibalah saya di kota Wonosobo. Untuk melanjutkan perjalanan menuju Dieng, saya harus berganti angkutan sejenis Elf atau bis kecil.

Akhirnya elf yang saya tumpangi pun berangkat setelah menunggu selama 1 jam. Jalanan menuju Dieng selalu menanjak, namun di kanan kiri saya, dihadapkan pada pemandangan yang sangat menyegarkan mata. Pesona gunung Sindoro Sumbing pun tak luput dari pandangan mata saya. Hijaunya lereng pegunungan dan kesibukan para petani yang sedang memanen palawija, merupakan hiburan tersendiri untuk diri saya dalam perjalanan kali ini.

Memakan waktu kurang lebih 2 jam untuk menempuh perjalanan Wonosobo-Dieng ditemani rintik hujan yang semakin deras, membuat saya sedikit mengantuk akibat hawa dingin yang menerpa tubuh saya. Namun teriakan sang kondektur membuat saya tersadar bahwa saya pun telah tiba pertigaan Dieng.

Di atas lebih dari 2000 meter dari permukaan laut, menjadikan dataran tinggi ini terasa sangat dingin dan ber-udara segar. Dikelilingi perbukitan, bagaikan gelang raksasa. Dieng memiliki tiga dataran. Konon dataran ini terbentuk, akibat letusan dashyat Gunung Merapi, hingga bagian puncak gunung terlempar. Bahkan, bila di bulan juli – agustus, suhu Dieng bisa mencapai dibawah titik beku, sehingga apabila beruntung, pengunjung dapat menikmati sensasi embun beku di pagi hari. Dan saya pun teringat jika saya tidak membawa sarung tangan dan baju tebal.

Tepat di tempat saya turun dari angkutan umum tadi, saya melihat 2 penginapan yang telah saya browsing sebelumnya, yaitu penginapan Bu Jono, dan penginapan Dieng Plateu Homestay. Saya pun akhirnya memutuskan untuk bermalam di Dieng Plateu Homestay, setelah memastikan bahwa masih terdapat kamar yang kosong untuk malam itu. Beres dengan administrasi dan barang bawaan saya, saya pun bergegas keluar untuk menikmati sejuknya udara Dieng. Tawaran penjaga penginapan disitu untuk mengantar saya keliling Dieng siang itu pun tidak saya tolak.

Tujuan pertama saya adalah Telaga Warna dan kawah Sikidang. Motor pun diarahkan ke Telaga Warna, namun kami masuk lewat jalur belakang, bukan lewat pos jaga. Pada saat saya datang, telaga tersebut berwarna hijau tosca. Suasana yang sejuk dan sepi, sebenarnya membuat saya betah untuk berlama-lama disitu.

Telaga Warna

Disebut Telaga Warna karena memiliki keunikan tersendiri berkaitan dengan warna telaga. Terkadang berwarna hijau dan kuning, biru dan kuning, atau berwarna-warni mirip pelangi. Variasi warna ini dipengaruhi cuaca, waktu dan tempat melihatnya.

Menurut masyarakat setempat, ada suatu kisah yang menyebabkan warna danau alias telaga itu berwarna-warni. Konon, dahulu ada cincin milik bangsawan setempat yang bertuah, namun jatuh ke dasar telaga, sehingga menyebabkan telaga tersebut sering berubah warna. Sementara dari kajian ilmiah, telaga ini merupakan kawah gunung berapi yang mengandung belerang. Akibatnya, bila air telaga terkena sinar matahari akan dibiaskan menjadi warna-warni yang indah.

Kawah Sikidang

Kawah ini adalah kawah vulkanik dengan lubang kepundan berada di daerah dataran sehingga kawah dapat disaksikan langsung dari bibir kawah. Sampai saat ini kawah Sikidang masih aktif mengeluarkan uap panas sehingga air kawah mendidih dan bergejolak. Di sini pengunjung bisa menikmati hangatnya uap kawah Sikidang yang mengandung belerang. Karena sangat panas, pengunjung hanya boleh mendekat dari jarak dua meter.

Puas menikmati fenomena alam di Kawah Sikidang, perjalanan pun saya lanjutkan mengelilingi areal candi-candi Hindu yang terdapat di Dieng, diantaranya Candi Bima, Gatotkaca dan Candi Arjuna. Di kompleks Candi Arjuna, banyak wisatawan asing dan beberapa mahasiswa asing yang sedang mengadakan penelitian. Tak luput bidikan kamera saya terus menemani perjalanan kali ini.

Sebelum kembali ke penginapan, saya berkeinginan kembali ke Telaga warna, tapi kali ini melalui pintu depannya. Akhirnya beliau menyanggupi dan motor pun diarahkan kembali ke Telaga Warna (karena memang 1 arah menuju ke penginapan). Saat sampai di telaga Warna, hujan deras pun turun membasahi Dieng dan kami pun terpaksa berteduh di pintu masuk Telaga Warna.

Menikmati dinginnya malam di Dieng

Menjelang malam di Dieng Plateu, udara beranjak menjadi sangat dingin. Jaket yang saya kenakan tidak begitu kuat untuk menahan hawa dingin yang menggigit. Sebagai pengusir hawa dingin, saya pun memesan segelas teh manis hangat dan Mie rebus. Lumayan untuk mengurangi dingin yang menusuk.

Menghabiskan malam di Dieng, saya dan penjaga homestay pun bermain catur dengan kemenangan sudah pasti di tangan beliau. Turut bergabung pula 2 backpacker asal jerman, yang dari hasil perbincangan saya dengan mereka, mereka sengaja mengambil cuti 1 tahun untuk keliling dunia, dan Indonesia merupakan salah satu negara tercantik yang mereka kunjungi. senang rasanya mendengar pujian tersebut. kami pun terus bertukar informasi dan menceritakan pengalaman kami masing-masing selama kami melakukan petualangan dimana saja.

Malam semakin larut, berhubung kami harus bangun pagi-pagi sekali untuk mengejar mentari pagi, kami pun menuju kamar kami masing-masing dan melanjutkan istirahat kami dalam dingin.

Mengejar Matahari Terbit di Bukir Sikunir

Jam 04.00 subuh, pintu kamar saya sudah diketuk oleh bapa penjaga Homestay. Saya ingat kalau saya harus ke Bukit Sikunir untuk mengejar Sunrise. Saat ke kamar mandi terlebih dahulu, baru terasa dinginnya air dan udara pagi di Dieng. Sangat dingin, hingga membuat tubuh ini sedikit menggigil.

Setelah siap, kami pun menuju Sikunir dengan menggunakan sepeda motor. Akibat diterpa angin yang begitu dingin, tubuh ini pun menggigil. Menyesal saya tdak membawa pakaian yang cukup tebal, karena ternyata jaket yang saya kenakan pun masih tidak bisa melawan udara dingin Dieng.

Hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai ke Bukit Sikunir. Saya pun langsung menuju puncak bukit, bersama-sama beberapa rekan dari Jogjakarta yang saya jumpai di kaki bukit Sikunir. Dinginnya pagi pun tidak menyurutkan langkah kaki ini menuju puncak bukit. Sampai di puncak bukit Sikunir, beberapa saat terlihat siluet mentari pagi. Namun dikarenakan kabut tebal yang turun, maka sunrise yang kami lihat tidak terlalu sempurna. Tepat di depan saya, gunung Sindoro pun perlahan-lahan menampakkan dirinya, bersamaan dengan semakin menipisnya kabut yang terhampar di hadapan saya. Menjulang gagah berhiaskan awan putih, menambah keindahan pagi itu.

Puas berdiam diri di bukit Sikunir, akhirnya saya pun kembali menuju penginapan, setelah sebelumnya kembali mata ini dimanjakan pada pemandangan hijaunya dataran Dieng yang saat itu sedang panen Kol, dan indahnya Telaga Kecebong di pagi hari.

Setelah selesai berbenah dan sarapan, saya pun melanjutkan perjalanan saya  menuju Jogjakarta, meninggalkan suasana sejuk dan sepi di Dieng, dan berharap suatu hari nanti saya akan kembali ke Dieng untuk menikmati keindahan alamnya.