Kemegahan akan Situs bersejarah Keraton Ratu Boko memang sudah sering saya dengar. Akhirnya saya berkesempatan untuk mengunjungi secara langsung situs ini dalam kunjungan saya ke kota Jogjakarta kali ini.

Saat ini, akses menuju Keraton Ratu Boko sudah relatif bagus, namun akses angkutan umum dari pasar Prambanan masihlah sangat jarang, sehingga kebanyakan pengunjung menggunakan kendaraan pribadi. Saat ini pula, pihak pengelola candi Prambanan – Ratu Boko telah menawarkan paket Prambanan-Ratu Boko. Dengan membayar HTM terusan, pengunjung dapat diantar ke Ratu Boko dengan mempergunakan shuttle setelah menikmati keindahan candi Prambanan, sehingga aksesnya menjadi lebih mudah.

Setelah 30 menit memacu motor dari Kota Jogjakarta, tibalah saya di komplek situs Keraton Ratu Boko. Dengan terlebih dahulu membayar tiket masuk sebesar Rp. 10.000 dan Ijin menggunakan kamera sebesar Rp. 5.000,  saya pun melangkahkan kaki menuju Gerbang utama dari Situs ini. Kurang lebih 500 meter berjalan kaki, gerbang utama Keraton Ratu Boko yang terletak di ketinggian kurang lebih 195,97 di atas permukaan laut terlihat sudah. Dengan melihat sekilas, kekokohan yang terpancar dari gapura ini menunjukkan sebuah karya penciptaan yang sangat indah pada masanya.

Butuh kurang lebih 3 jam untuk saya dapat menikmati situs ini secara keseluruhan, mulai dari Gapura hingga terus ke arah Tenggara menuju Kaputren lalu kembali menuju Gapura kembali. Beruntung hari itu saya bertemu dengan seorang penduduk lokal yang kemudian ikut menemani saya mengitari areal Keraton ini. Selama perjalanan kami, beliau bercerita bahwa semenjak beliau lahir, Keraton Ratu Boko tersebut sudah ada, namun kondisinya sebagian rusak dan sebagian lagi masih tertimbun tanah. Pemugaran Situs Ratu Boko itu sendiri dimulai sejak zaman penjajahan Belanda tahun 1938. Usaha itu kemudian dilanjutkan pemerintah Indonesia sejak tahun 1952.

Areal Keraton Ratu Boko ini terdiri dari beberapa areal atau teras-teras, yang masing-masing dipisahkan oleh Talud atau Benteng dan Gapura. Namun secara umum, ditinjau dari tata letaknya, areal Keraton Ratu Boko ini terdiri atas 5 kelompok, yaitu :

1. Kelompok Gapura Utama terletak di sebelah barat yang terdiri dari Gapura Utama I yang memiliki 3 pintu dan Gapura II yang memiliki 5 buah pintu, talud, pagar, candi Pembakaran dan sisa-sisa reruntuhan.

2. Kelompok Paseban terdiri dari batur Paseban dua buah, talud dan pagar Paseban.

3. Kelompok Pendapa terdiri dari batur Pendapa dan Pringgitan yang dikelilingi pagar batu dengan tiga gapura sebagai pintu masuk, candi miniatur, serta beberapa kolam penampung air berbentuk bulat yang dikelilingi pagar lengkap dengan gapuranya.

4. Kelompok Keputren berada di sebelah tenggara, terletak pada halaman yang lebih rendah dan terdiri dari dua batur, kolam segi empat, pagar dan gapura.

5. Kelompok Gua terdiri dari Gua Lanang dan Gua Wadon.

Siang pun beranjak sore, setelah meluangkan waktu untuk sekedar beristirahat dan menikmati udara yang sejuk di sebuah gubuk yang terdapat di areal Pendopo, saya pun kembali menuju Gerbang utama untuk menunggu matahari terbenam. Setibanya saya di area alun-alun Keraton, sudah banyak pengunjung yang sedikit memadati Gapura utama, sehingga saya berfikir kurang bagus untuk mengambil gambar dari alun-alun. Saya pun akhirnya bergabung dengan beberapa wisatawan yang akan mengabadikan matahari terbenam dari atas Candi Pembakaran.

Sayang cuaca hari itu kurang sedikit bersahabat, sehingga bulatan merah sang surya pun kurang begitu sempurna. Memang biasanya waktu yang bagus untuk menikmati senja yang indah di Keraton Ratu Boko adalah kisaran bulan Juni hingga Agustus, dimana bulatan matahari terbenamnya seakan-akan melayang turun dan berada tepat di tengah gapura kedua.

Setelah langit gelap, saya pun meninggalkan areal Komplek Keraton Ratu Boko dengan kekaguman atas kejayaan dan keindahan karya bangsa di masa lalu, yang mampu menciptakan bangunan-bangunan yang sangat indah di masanya, dengan segala keterbatasan yang dimiliki mereka.