Pernah ngalamin kejadian ditolak dengan penduduk lokal selama melakukan kegiatan Travelling ? atau paling tidak, diliatin dari ujung kepala sampai ujung kaki seperti orang asing ? Jujur, Saya pernah…..!
.
Awalnya saya tidak terlalu ambil peduli dengan hal tersebut, karena pada waktu itu, saya masih berfikir bahwa saya datang ke tempat tersebut dengan tujuan ingin berlibur, bukan beramah tamah dengan penduduk sekitarnya. Ternyata anggapan saya 100% keliru.
.
Mengapa keliru ?

Kapan kejadiannya, saya tidak ingat secara persisnya. Namun saat itu, kebetulan saya pergi ke sebuah tempat yang bagi saya masih baru, secara berkelompok. Sampai di tempat tujuan, kebetulan acara masih bebas, sehingga kami memiliki kesibukan masing-masing. Ada yang hunting foto (soalnya bawa lensanya panjang beneeerrrr), ada yang cari jajanan lokal, ada yang baca buku, sementara saya, sepeti biasa, berjalan sendiri, sambil melihat-lihat daerah sekitar tempat yang kami inapi.
.
Kebetulan saya bertemu dengan serombongan anak-anak kecil yang kalau tidak salah ingin bermain di lapangan. Karena mereka tau saya pendatang atau wisatawan, mereka pun langsung beramai-ramai mendekati saya, bertanya ini itu, sari mana saya datangnya, mau lihat apa di situ, dan berbagai pertanyaan standar khas anak-anak.
.
Terganggu ? oh tidak…kebetulan saya memang senang berinteraksi dengan anak kecil (kalau lagi pengen, hehehehe), sampai kami berfoto bersama dan saya pun menunjukkan hasil jepretan dari kamera digital saya, yang waktu itu masih 3.2MP. Mereka pun mengeluarkan ekspresi berbeda-beda. Ada yang tertawa geli melihat posenya, ada yang senyum-senyum, ada yang meledek temannya, ada juga yang minta nambah di potonya (ngalah-ngalahin saya ternyata).
.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkomentar, “mas baik yah (bukan muji diri sendiri yah….).”
.
“Baik kenapa?”, ujar saya sambil tersenyum heran
.
“Iya baik aja…mau main sama kita-kita..”
.
“Lho, memangnya gak ada yang mau main dengan adik semua?“, tanya saya lagi
.
“gak mas…..kalo orang-orang dateng, biasanya cuma poto-poto, trus pergi aja gitu…jarang ada yang mau main dengan kita-kita,” sahut salah satu dari mereka sambil di-iyakan dengan yang lainnya.
.
Saya pun hanya dapat tersenyum miris…..ternyata mereka selama ini, melihat para wisatawan atau orang baru yang mendatangi tempat mereka, tak lebih dari sekedar orang asing yang numpang lewat saja. Kebetulan ada tempat bagus yang bisa dilihat, dan demi menambah referensi perjalanan kita saja, tanpa memperdulikan penduduk sekitar yang kebetulan mereka lewati.
.
.
========================
.
Lain cerita di atas, lain pula cerita yang satu ini. Kebetulan saya saat itu solo-travelling ke daerah Dieng, dan tempat yang sedang saya kunjungi adalah Kompleks Candi Arjuna. Karena melihat ada seorang Bapak-bapak sedang menggembala ternaknya, iseng saya mendekat untuk mengobrol dengan beliau. Ternyata tanggapan beliau tidak seperti yang saya harapkan. Akhirnya selidik punya selidik, beliau pun berkata, “saya takut mas dengan turis. Biasanya mereka cuma mau poto-poto saya saja.”
Akhirnya dengan mempergunakan bahasa jawa seadanya (baca : ancur lebur), akhirnya saya bisa mengobrol dengan beliau dan bisa memahami mengapa beliau berkata demikian.
.
========================
.
Mendapatkan kejadian di atas (dan masih banyak kejadian serupa seperti itu), membuat saya berfikir, apakah iya, kita-kita yang sedang melakukan perjalanan atau Travelling sering merasa dirinya “lebih” dibandingkan dengan penduduk lokal yang kita datangi ? Atau kah ada alasan lain, sehingga kita tidak mau membaur dengan mereka ?
.
Kemudian pada beberapa kesempatan pergi berkelompok, ternyata beberapa komentar dan keluhan yang pernah saya terima memang terbukti adanya. Mereka sibuk dengan kegiatan sendiri-sendiri, sibuk mengabadikan panorama dengan alatnya yang super canggih atau sibuk berkelompok kesana kemari, sementara para penduduk lokal yang ada di sana, hanya bisa memandangi mereka semua, layaknya seperti objek tontonan yang mengasyikkan (mungkin sebagian berpendapat seperti itu).
.
.
.
Tapi saya juga tidak bisa serta merta menyalahkan mereka semua, mengapa tidak berinteraksi dengan penduduk lokal. Bagaimanapun, kepala tiap orang tidaklah sama, minat dan style tiap orang juga tidak sama. Jadi ya, saya maklum saja jika melihat kejadian-kejadian seperti di atas, tanpa berusaha untuk memberi tahu. Bukan apa-apa, cuma gak mau dianggap “sok” aja, hehehehe. Saya juga toh masih belum 100% selalu berinteraksi dengan penduduk lokal juga, apalagi kalau mood jeleknya lagi muncul. Bisa-bisa malah nyari tempat yang sepi-sepi buat menyendiri.
.

=======================
.
Sekarang saya sedikit banyak mendapatkan manfaatnya dari berinteraksi dengan para penduduk lokal dari setiap daerah yang saya datangi, seperti :
.
1. Penduduk lokal, merupakan penduduk asli daerah yang akan kita tuju, dengan kata lain, mereka telah hidup lama di tempat tersebut. Jadi sedikit banyak tahu apa saja yang dapat kita lakukan di daerah tersebut. Mereka secara tidak langsung menjadi Guide yang handal bagi diri kita (tapi jangan pukul rata ya…ada juga penduduk lokal yang malah bikin kita pusing tujuh keliling, hehehe)
.
2. Berinteraksi dengan penduduk lokal, memberikan rasa nyaman pada diri mereka atas diri kita sebagai orang pendatang. Sehingga mereka tidak akan menaruh curiga yang berlebihan terhadap kita. Yang berarti, jika kita sewaktu-waktu membutuhkan pertolongan mereka, mereka akan dengan sigap membatu kita semampu mereka.
.
3. Berinteraksi dengan penduduk lokal, meskipun hanya dengan beberapa kalimat yang dihiasi dengan untaian senyuman kita, membuat mereka merasa lebih dihargai sebagai manusia. Apalagi jika kebetulan kita memerlukan mereka sebagai objek dari beberapa bidikan kamera kita.
.
4. Penduduk lokal biasanya sangat senang menerima tamu. Bagi sebagian dari mereka, kedatangan tamu merupakan berkah bagi keluarga mereka. Jadi gak ada salahnya juga tinggal bersama dengan mereka dan mengetahui bagaimana kehidupan sehari-hari mereka (yang ini sangat ampuh kalau lagi kepepet uang di dompet sudah mau habis…tapi jangan keseringan yaaa hehehehe. Ya paling kalau saya sering memberikan timbal balik kepada mereka semampu saya, tapi kebanyakan ditolak oleh mereka).
.
5. Bagi beberapa penduduk lokal, para turis atau pendatang merupakan sumber ilmu bagi mereka. Contoh : saya sempat diminta mengajarkan komputer pada salah seorang pejabat desa, yang kebetulan waktu itu kedatangan komputer baru. Hasilnya bisa ditebak, akomodasi, makan, motor, pergi ke tempat wisata gratis….dan sampai sekarang masih sering di-sms kapan ke sana lagi.
.
Namun bukan itu yang saya cari. Saya hanya sebatas mengamalkan sedikit ilmu yang kebetulan saya lebih beruntung mengetahuinya terlebih dahulu dibanding mereka. Kalau yang lainnya, ya saya anggap sebagai bonus.
.
.
Masih banyak lagi keuntungan-keuntungan jika kita sering berinteraksi dengan para penduduk lokal saat kita sedang melakukan perjalanan / Travelling. Dan yang pasti, mereka pasti akan sangat respon terhadap kita semua apabila kita juga merespon keberadaan mereka di sana.
.
.
So…. RESPECT LOCAL PEOPLE, AND THEY WILL RESPECT YOU TOO….