Mengunjungi Bali tidak melulu untuk melihat kecantikan pantai dan pemandangan matahari terbenamnya. Agenda saya kali ini adalah mengunjungi beberapa tempat di dataran tinggi Bali, khususnya daerah Kintamani dan Bedugul


* * * * * *

Mungkin benar pendapat beberapa wisatawan yang saya temui ketika saya sedang berlibur ke Bali. Jika kita sudah merasa panas karena bermain-main di daerah pantai, ada baiknya kita mendinginkan tubuh kita di daerah pegunungan yang memiliki pemandangan yang tidak kalah cantiknya dengan pemandangan pantai dan matahari terbenamnya.

Sejuk dan Tenangnya Ubud

Untuk membuktikan hal tersebut, kali ini saya dengan mengendarai sepeda motor yang telah saya sewa sebelumnya, melaju ke dataran tinggi yang terletak di kabupaten ………Bali, diantaranya Ubud dan Kintamani. Kurang lebih 1 jam waktu yang saya habiskan untuk menempuh jarak Kuta – Ubud. Untung saja saat itu jalanan sedang sepi, sehingga saya tidak harus berlomba-lomba dengan kendaraan lainnya.

Memasuki Ubud, suasana sangat lengang sekali. Gerimis yang turun menambah suasana sejuk dan tenang tempat ini. Tak heran banyak wisatawan dari daratan Eropa yang gemar menghabiskan waktu di Ubud untuk menikmati keindahan alam dan ketenangan suasananya. Sepanjang jalan, mata saya sangat dimanjakan oleh hijaunya sawah-sawah dengan Subak-nya yang memukau, membuat saya betah berkeliling menyusuri jalanan di sekitaran Ubud.

Museum Antonio Blanco – Ubud

Karena saya tidak berkesempatan mengunjungi Monkey Forest di Ubud yang sedang ditutup dikarenakan saat itu monyet-monyet yang menghuni hutan tersebut sedang ganas-ganasnya, saya pun berpindah haluan dengan mengunjungi Museum Antonio Blanco yang sangat terkenal itu. Museum Maestro pelukis asal Spanyol ini terletak tepat di atas sungai Campuhan dengan hawa perbukitan yang sangat sejuk dan tenang. Memasuki areal museum, kami disambut oleh penjaga yang sangat ramah dan disodori minuman selamat datang yang menyegarkan.

Musium ini sendiri berdiri berdampingan dengan rumah asli keluarga Blanco.

Areal rumah yang hijau dan asri ini bertambah semarak dengan hadirnya hewan-hewan peliharaan Sang Maestro, diantaranya Jalak Bali, Kakatua Raja, Kakatua Putih, Burung Merak dan masih banyak lagi. Di depan museum Blanco, terpampang megah tanda tangan Antonio Blanco yang dibuat dalam kertas lipatan. Di dalam museum ini terpampang karya-karya Sang Maestro yang bertemakan keindahan wanita. Namun jangan sesekali berani untuk memotret lukisan-lukisan tersebut, karena kamera anda yang akan menjadi taruhannya.

Keindahan Danau Batur dalam balutan dinginnya Kintamani

Gerimis yang jatuh di pagi hari menambah sejuk udara saat saya melajukan sepeda motor ke arah Kintamani. Udara dingin menerpa badan saya yang sudah terbalut jaket tebal. Suasana perkebunan jeruk yang sangat rimbun ditambah dengan masih tertata rapihnya areal persawahan yang ada menjadikan pemandangan tersebut sebagai teman yang terbaik sepanjang perjalanan ini. Seringkali motor yang saya kendarai beriringan dengan beberapa rombongan yang akan melakukan sembahyang di pura-pura yang memang banyak terdapat di daerah Kintamani. Mulai dari pria dan perempuan dewasa, hingga anak-anak, semua menuju pura dengan balutan pakaian khas pulau dewata ini.

Salah satu objek wisata andalah daerah Kintamani adalah pemandangan Danau Batur dengan latar belakang gunung Batur yang gagah menjulang tinggi. Tak heran di sepanjang jalan, banyak rumah makan yang sengaja didirikan dengan Danau Batur ini sebagai pemandangannya. Saat memasuki kawasan Danau Batur, gerimis kembali turun, sehingga saya harus memperlambat laju kendaraan saya agar tidak terpeleset karena jalannya lumayan licin.

Di Danau Batur itu sendiri, terdapat sebuah desa tua yang bernama Terunyan, dengan peradaban Bali kuno dimana mayat orang yang meninggal tidak dikubur atau dibakar, seperti layaknya orang Bali kebanyakan, namun hanya diletakkan begitu saja dibawah sebuah pohon menyan.

Mayat-mayat tersebut tidak akan mengeluarkan bau busuk sama sekali, karena dinetralkan oleh wangi harum yang dikeluarkan oleh batang pohon menyan tersebut. Namun yang harus diperhatikan adalah banyaknya pedagang-pedagang cinderamata yang selalu mengelilingi dan mendatangi turis, sehingga hal tersebut agak sedikit mengganggu para wisatawan yang berkunjung.

Dalam perjalanan pulang kembali ke penginapan, saya melewati Istana Kepresidenan Tampaksiring. Coba-coba untuk bisa masuk ke dalam, tapi ternyata sudah dicegah oleh penjaganya terlebih dahulu dan diinformasikan bahwa saat ini Istana Tampaksiring tidak terbuka untuk umum.

* * * * *

Menuju Bedugul. Keesokan harinya, cuaca lumayan cerah. Saya pun kembali ingin mengunjungi tempat-tempat selain pantai. Pilihan saya jatuh pada daerah Bedugul. Kali ini mengambil jalan melalui Denpasar, saya pun kembali memacu kendaraan saya setelah saya menyelesaikan sarapan yang disediakan oleh penginapan tempat saya menginap.

Butuh waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam perjalanan dari Kuta menuju Bedugul. Apabila hari sebelumnya saya melewati jalan By Pass yang relatif sepi, kali ini saya harus melewati jalan umum yang lebih padat. Memasuki daerah Bedugul, jalanan menanjak dan berkelok-kelok. Suasana pegunungan sudah sangat terasa dengan perubahan suhu udara dibandingkan dengan suhu di Denpasar yang relatif panas. Rindangnya pepohonan di kanan dan kiri jalan seolah menambah kesejukan udara pagi itu Namun malang nasib saya, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Saya pun terpaksa berteduh di sebuah warung makan selama kurang lebih 1 jam hingga hujan reda.

Keanggunan Pura Ulun Danu

Bertepatan dengan redanya hujan, saya kembali melanjutkan perjalanan menuju Danau Baratan. Setelah tiba di sebuah desa paling atas, jalanan kembali turun. Saat itu terbentanglah di hadapan saya Danau Baratan yang sangat luas. Langsung saja saya mencari tempat parkir motor dan menitipkan motor saya di sana.

Setelah  membayar tiket masuk sebesar Rp 5.000, saya pun masuk ke areal Pura Ulun Danu. Pura Ulun Danu ini dibangun di atas Danau Baratan, sehingga dilihat dari sisi manapun, Pura yang satu ini akan terlihat sangat anggun, berdiri megah di atas luasnya hamparan air danau.

Suasana Pura Ulun Danu agak ramai dengan beberapa rombongan besar turis Jepang dan beberapa rombongan kecil lainnya. Semua pengunjung mengagumi keindahan Pura yang satu ini, dan bergantian mengambil gambar untuk mengabadikan kenangan mereka dengan Pura Ulun Danu dan Danau Baratan sebagai latar belakangnya.

Saat ini Pura Ulun Danu telah dijadikan sebagai ikon atau tanda gambar yang tertera pada uang kertas pecahan Rp. 50.000

Sebenarnya saya masih ingin melanjutkan perjalanan menuju bukit untuk melihat pemandangan danau Baratan dari atas. Namun karena waktu yang saya tempuh sangat lama akibat hujan yang turun, saya pun mengurungkan niat tersebut dan memutuskan untuk kembali ke penginapan saja.

Dengan iringan gerimis yang lagi-lagi kembali turun, saya pun kembali menuju Kuta untuk menghabiskan waktu liburan saya. Ternyata Bali memang memiliki keindahan alam dan ragam kultur budaya yang sangat luar biasa, sehingga sangat layak dijadikan sebagai alternatif bagi kita yang ingin menghabiskan waktu liburan bersama keluarga. Dan tidak ada salahnya bagi kita menikmati sisi dingin dari eksotisme pulau Dewata ini.