Saat mendengar nama Pulau Masalembu, hal pertama yang muncul di benak saya adalah peristiwa tenggelamnya kapal Tampomas 2 di perairan Masalembu. Menurut beberapa sumber di internet, perairan Masalembu merupakan perairan dengan arus yang sangat kuat, karena terletak  di daerah “pertigaan” laut yaitu laut jawa yang berarah barat timur dan selat Makassar yang memotong berarah utara-selatan, sehingga nama tersebut lebih dikenal sebagai Segitiga Bermuda-nya Indonesia. Kalau saja besarnya gelombang laut yang menerpa kapal yang kami tupangi semalam masih dalam katagori gelombang kecil, saya tidak bisa membayangkan berapa besar gelombang dan arus pada saat musibah beberapa kapal di perairan Masalembu terjadi.

Salah satu kegiatan saya selama mengunjungi Pulau Masalembu ini adalah ikut melaut bersama para nelayan Masalembu. Namun sayang kami kurang beruntung, dikarenakan saat itu bukanlah saat panen ikan.

MENEMBUS PAGI BERSAMA NELAYAN MASALEMBU

Dini hari sekitar pukul 01.00, kami semua terbangun. Dinginnya angin laut membuat saya menutup rapat jaket yang saya gunakan. Masih dalam keadaan setengah mengantuk, kami mengikuti langkah para nelayan menuju kapal mereka. Ternyata malam itu air laut sedang surut, sehingga kami harus berjalan sekitar 200 meter dari bibir pantai untuk mencapai kapal nelayan. Gelapnya malam dengan hanya mengandalkan sinar kecil dari senter kami, membuat kami semua berjalan pelan-pelan.

Kalau air laut gak pasang, kita biasanya berangkat jam tiga, mas,” terang Pak Sam, pimpinan nelayan yang kami tumpangi untuk melihat mereka melaut, setibanya kami semua di kapal. Kapal milik Pak Sam termasuk kapal nelayan yang besar, dan dapat memuat setidaknya 15 awak kapal. “Jadi sekarang mas-nya bisa ngelanjutin tidur dulu, sampai nunggu air pasang, baru kapal bisa jalan,” lanjut Pak Sam.

Akhirnya terjawab sudah rasa penasaran saya kenapa kita harus berangkat pagi-pagi sekali. Ditemani kemilau ribuan bintang di langit (dan saya merasa itu stargazing yang sangat indah), saya dan beberapa nelayan pun tertidur di atas kapal, menunggu air laut kembali pasang.

Hampir 2 jam saya tertidur, hingga saya mendengar suara orang bercakap-cakap. Ternyata laut sudah mulai pasang dan seorang nelayan yang berdiri di anjungan mulai menggerakkan kapal menggunakan bilah bambu yang kuat, untuk memutar haluan kapal dan bergerak menuju daerah yang lebih dalam, sehingga mesin kapal pun dapat dinyalakan. Tak berapa lama, mesin pun berputar, mengarahkan kapal menuju laut lepas. Sekitar 20 mil jarak tempuh para nelayan ini menuju tempat pencarian ikan, yang berarti kurang lebih 2 jam pula kami harus berlayar menuju lautan.

Ufuk timur sedikit demi sedikit berubah warna, menampakkan sinar sang surya yang menandakan pagi akan segera datang. Sinar kuning keemasan berbalut awan mendung, membuat garis batas cakrawala kembali terlihat. Tak lama, kami pun tiba di tempat Pak Sam dan anak buahnya biasanya menjala ikan. Ternyata untuk menambatkan kapal mereka, Pak Sam telah membuat tanda dari beberapa bilah bambu besar, yang dipancangkan oleh sebuat batu besar, sehingga tidak terbawa arus, dan berfungsi sebagai jangkar yang kuat.

Arusnya masih belum bagus,” terang Pak Sam, saat saya menanyakan mengapa beliau tidak langsung menjaring ikan. 5 menit kemudian, beliau pun menyuruh anak buahnya membuka ikatan pada tiang bambu dan menyalakan mesin kapal. Sekitar 200 meter dari tiang bambu, aba-aba untuk melempar jala pun diteriakkan oleh Pak Sam. Kapal kembali berputar menuju tiang bambu, dengan jala yang sudah ditebarkan sebagai perangkap bagi ikan-ikan. Mesin kembali dimatikan, dan kapal kembali ditambatkan. Perlahan kedua sisi jala ditarik menuju kapal. Saat dirasa jala menjadi berat, disinilah kerjasama bagi seluruh awak kapal, bergantian menarik jala, menjaga tambatan kapal dan merapihkan kembali jala yang telah diangkat, agar tidak berbelit.

Waaaaaaaaaaaah….kosooonggg,” teriak beberapa awak kapal bersamaan. Namun mereka hanya tertawa-tawa dan kembali bercanda, seolah menutupi gurat kecewa yang tersirat di wajah mereka. Ketika saya menanyakan kenapa tidak ada ikan yang tertangkap ke Pak Sam, beliau hanya tersenyum dan berkata, “Maklum mas, ini memang sedang musim ikan bertelur. Jadi sebenarnya, kalaupun dapat banyak, ya..itu karna faktor untung.”

Saya pun teringat kata-kata Pak Camat, yang menceritakan bahwa kehidupan masyakarat nelayan memang sangat bergantung pada musim dan arus laut. Ada kalanya pada saat musim bagus, sekitar bulan delapan dan sembilan, banyak nelayan yang hanya memerlukan sekali putaran saja untuk mendapatkan hasil tangkapan yang diinginkan. Namun apabila saat bukan musimnya atau arus sedang tidak bersahabat, ikan-ikan yang didapat pun hanya dapat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, seperti yang saya lihat saat ini. Tak satu pun ikan yang tertangkap, sehingga Pak Sam dan para nelayan lain harus beberapa kali menebar jala. Namun pada tangkapan kedua, kami sedikit beruntung, karena jala kami menangkap ikan layang dalam jumlah yang lumayan, walaupun tidak terlalu banyak.

MAKAN PAGI DI TENGAH LAUT LEPAS

Tak terasa waktu berlalu, seiring dengan timbulnya rasa lapar karena kami semua belum sarapan pagi dan saya pun tidak membawa bekal, hanya cemilan ringan yang sudah pasti tidak akan bertahan lama. Tiba-tiba Pak Sam memberi aba-aba agar anak buahnya membakar ikan sebagai lauk makan pagi. Betapa senangnya kami semua, bak mendapat oase di padang pasir. Mereka pun mempersiapkan sabut kelapa untuk membakar ikan hasil tangkapan kami dengan mempergunakan sebuah kaleng sebagai alasnya, agar tidak mengenai kayu kapal. Sesaat saya melihat semua awak kapal ternyata membawa bekal nasi dari rumah masing-masing. Ah ya….baru saya tersadar, bahwa kehidupan mereka setiap harinya memang pergi ke laut, sehingga semuanya sudah dipersiapkan, termasuk bekal masing-masing.

Bakaran pertama sudah matang dan kami pun dipersilahkan mencicipi ikan tersebut terlebih dahulu, sementara yang lainnya menunggu hasil bakaran selanjutnya. Sempat merasa tidak enak, namun untuk menghormati jerih payah mereka, kami pun menyantap ikan-ikan tersebut. Mungkin karena faktor ikan tersebut masih fresh ketika dibakar, rasa ikan tersebut sangatlah manis dan gurih, padahal kami tidak menambahkan bumbu-bumbu. Sangat nikmat sekali. Ketika ditanya apakah kami membawa bekal nasi, kami pun sejenak berpandangan dan serempak menjawab tidak. Bukan karena tidak mau membawa, tapi karena memang kami tidak tahu.

Tiba-tiba, “Makan dengan nasi saya saja mas….,” ujar Pak Sam.

Wah nanti kurang loh Pa…gak apa-apa koq…kami makan ikan aja udah kenyang pa…,” balas saya sambil tersenyum dan tetap menikmati ikan tersebut.

Tetapi Pak Sam terus memaksa, dengan alasan kami belum sarapan nasi, sementara dirinya sudah terbiasa dengan angin laut. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, kami pun berebutan menikmati nasi yang ditawarkan Pak Sam. Kemudian yang lainnya pun silih berganti menawari kami bekal mereka masing-masing. Sebagai gantinya kami  menawari mereka bekal coklat yang kami bawa. Sebuah nikmat yang saya rasakan, melewati pagi di tengah lautan, bercanda bersama para nelayan, dalam balutan kesederhanaan yang mereka tawarkan, menjadikannya suatu pelajaran indah untuk hari itu.

Selepas sarapan, kegiatan para nelayan biasanya diisi dengan memancing. Beberapa mendapatkan ikan, sedang yang lainnya tidak. Biasanya, dengan umpan ikan layang, bisa tertangkap Ikan Tenggiri atau Ikan Tongkol yang cukup besar. Kemudian kami kembali menebar jala, dengan hasil tangkapan tidak terlalu berbeda dengan tangkapan yang kedua. Kapal pun ditambatkan. Para nelayan beristirahat sejenak, merebahkan tubuh mereka di anjungan kapal. Sesekali menarik sarung untuk menutupi sinar matahari yang semakin lama semakin terasa panas.

SEUNTAI SENYUM NELAYAN MASALEMBU

Saat semua beristirahat, saya duduk di buritan kapal, bersama dengan salah satu nelayan, sebut saja Pak Jum. Dari cerita beliau, jika musim panen tiba, seharinya setiap nelayan dapat mengantongi hasil penjualan kurang lebih Rp. 500.000. Jumlah yang lumayan besar untuk dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Hasil tangkapan yang terjaring pun beragam, mulai dari ikan layang seperti yang kami makan, hingga ikan-ikan besar seperti cakalang, tenggiri dan ikan tongkol. Hasil tangkapan tersebut langsung dijual ke pengumpul, yang biasanya mempergunakan kapal yang lebih besar lagi. Uniknya, penjualan tersebut tidak menunggu hingga kapal merapat di pantai, namun saat itu juga di tengah lautan, kedua kapal akan berdampingan dan terjadilah transaksi jual beli di lautan lepas.

Nelayan asal Situbondo yang telah bergabung dengan Pak Sam selama kurang lebih 7 tahun ini pun menambahkan, “Tapi kalau musim seperti sekarang, pendapatan kita juga gak tentu, mas. Kadang-kadang per orang cuma bawa Rp 20.000 setiap harinya, atau mungkin tidak dapat uang sama sekali. Hanya ikan yang dibagi rata, untuk kebutuhan harian kita,” sembari berusaha menutupi kesedihannya. “Yah, tapi bagaimanapun, kita memang harus bisa menerima, ya mas… Namanya juga hidup. Gak pasti selalu enak.” Kali ini seuntai senyum pun terlihat di muka pak Jum, menandai semangat baru dalam dirinya.

Mengamati sosok Pak Jum, yang bergegas menuju anjungan karena kapal akan berputar menebar jala sekali lagi, membuat saya sedikit menyelami kehidupan para nelayan ini. Walau tak menampik segurat kesedihan yang sesekali datang, namun rasa optimis dari diri mereka akan selalu ada demi kelangsungan hidup.

Matahari sudah meninggi. Aba-aba Pak Sam untuk melepas tambatan kapal, menandakan akhir dari mencari ikan hari ini. Sambil mengarahkan kapal menuju pantai, sesekali beliau melemparkan pancingan miliknya. Ternyata salah satu mata kailnya menangkap Ikan Tongkol dalam ukuran cukup besar. “Lumayan mas, buat nambah-nambah dapur,” kata Pak Sam sambil memperlihatkan hasil pancingannya kepada saya yang setengah terjaga. Saya pun ikut tersenyum dan mengamininya, sembari merubah posisi duduk saya agar terlindung dari sinar matahari.